Aku melirik arlojiku, waktu sudah hampir maghrib tetapi kereta yang dijanjikan announcer akan
datang pukul 17: 35 tak kunjung datang. Masalahnya bukan hanya keterlambatan
ini saja, melainkan langit diatas sana sudah memasang aba-aba akan memuntahkan
hujannya.
Bagaimana ini?
Kondisi di stasiun Bogor saat ini sangat amat tidak
menyenangkan. Padat dan pengap dipenuhi oleh ribuan massa yang ingin pulang ke
Jakarta. Padahal ini hari kerja, tapi bisa ramai seperti ini. Pasti karena
penurunan harga tiket CL yang sangat drastis sekaligus penghapusan kereta
ekonomi jurusan Jabodetabek.
BYURR!!!
Look! Sooo SHIT!
Benar-benar hujan dan sialnya aku berdiri di paling
pinggir batas atap peron. Aku menyesalkan kenapa pihak stasiun tidak membuat
atap sepanjang peron itu sendiri, kenapa ada bagian peron yang tak beratap, ini
sungguh menyulitkan disituasi hujan seperti ini. Bahkan aku lihat ada beberapa
orang terpaksa turun dari peron dan berlindung di dalam stasiun, walau stasiun
itu sendiri sudah penuh dengan penumpang yang mengantri tiket.
Bagian tubuh sebelah kananku sudah lepek. Aku mengapit
tasku disebelah kiri supaya tak kena hujan, sambil berdesakan dengan calon
penumpang lainnya kami semua berharap kereta segera datang dan kami
terselamatkan.
Tak lama kemudian, aku mendengar announcer
menginformasikan bahwa kereta jurusan stasiun akhir Bukit Duri akan segera
masuk. Aku bernafas lega. Beberapa penumpang perempuan berlari menuju peron
yang tak beratap demi mendapat duduk di gerbong wanita, nanti. Karena gerbong
wanita terletak dipaling ujung kereta, jadi mau tidak mau para wanita itu harus
rela kehujanan kalau ingin mendapat duduk di gerbong wanita. Termasuk aku.
Tapi aku belum senekat mereka, mungkin nanti saja kalau
kereta sudah sampai, aku akan berlari ke bagian ujung peron.
Dari arah timur aku melihat kereta yang kami tunggu
sejak tadi sedang berjalan kearah stasiun. Lampunya terang benderang membuat
mata sakit. Aku sudah lama tidak naik kereta, tapi sekalinya naik mendapat
sensasi seperti ini. Beberapa penumpang yang tadinya menunggu di peron beratap,
langsung berlarian ke peron yang tak beratap.
Sekali lagi aku menyesalkan, panjang kereta sepanjang
peron yang dibuat, lalu kenapa atap peron hanya dibuat menutupi setengah bagian
peron saja? Huh. Aku terpaksa berlari juga mengantri pintu gerbong wanita
dibuka.
Hujan sangat deras. Sekali pijak bajuku langsung basah
semua sampai dalam. Aku menggigil, kami semkua menggigil kedinginan. Damn, aku memang gadis tanpa payung
lipat sejak dulu.
SREEEEKK
Akhirnya gerbongnya dibuka. Aku langsung berlari ke
dalam kereta, berebut tempat duduk dengan penumpang lainnya. Oh, aku dapat!
Astaga.. pas sekali kursi di gerbong wanita ini terisi semua dan tak ada yang
berdiri satupun. Alhamdulilah...
Aku memeras rambutku yang basah, dalam sekejap lantai
kereta langsung banjir oleh air hujan yang kami bawa dari peron. Becek, kotor
dan... dingin. Ya Tuhan, dingin sekali. Kenapa TKA mereka memasang AC sedingin
ini saat sedang hujan, mereka ingin kami mati?
Aku menggosok-gosok kedua tanganku, menghangatkan diri
sendiri. Sialnya bajuku tipis dan aku hanya memakai rok selutut. Rasa dingin menyeruak
masuk ke dalam tubuhku
dan aku benar-benar tidak tahan.
“Mama, dingin..” seorang anak laki-laki berumur 10
tahunan meringkuk di pelukan
ibunya. Aku menatapnya iba. Kemana TKA ini. Lama sekali berganti kabinnya.
“Ganti baju aja disini yah.” Ibunya menyarankan. Anak
itu menggeleng, lalu menatapku dan mengedarkan pandangannya ke penumpang
lainnya.
“Malu...” katanya. Ibunya membujuk sambil mengeluarkan
baju ganti dari dalam tas si anak.
“Ade, ganti aja bajunya nanti sakit, gak usah malu. Aku
gak liat deh!” aku ikut membujuknya. Ibunya tersenyum sambil terus membujuk
anaknya supaya mau mengganti bajunya yang lepek.
Dan dengan malu-malu akhirnya dia mau.
“Lepek baju gue mas, bentar ganti dulu.”
“Di kabin aja si, udah telat!”
Aku menguping pembicaraan seorang masinis dengan TKAnya
yang berjalan cepat dikabin penumpang menuju kabin masinis. Baju mereka juga
terlihat basah, tapi tak selepek kami semua disini. Lalu kedua petugas itu
masuk ke dalam kabin dan menutup pintunya, semoga mereka tak main-main lagi dan
langsung menjalankan keretanya.
“Mah.. masih dingin. Celananya basah juga!” anak
laki-laki yang tadi hampir menangis. Ibunya berkata ia tak membawa celana
ganti. Huh, pantas saja bisa dingin sekali seperti ini, mereka menyalakan AC
sekaligus kipas anginnya di dalam kereta.
Dengan inisiatif yang untungnya belum tumpul disaat
kondisi seperti ini. Aku melangkahkan kakiku menuju kabin Masinis dan dengan
nekat menggedor pintunya.
“Mas!! Mas buka dong!!”
Aku melihat wajah TKAnya dikaca kabin saat ia membuka
gordennya dan tak lama kemudian membukakan pintu kabin untukku. “Kenapa mba?”
“Mas AC-nya kecilin dong, kalo gak kipasnya matiin aja.
Gak tau pada kedinginan semua gitu?” walaupun aslinya marah tapi aku masih
menurunkan tempo suaraku padanya. Supaya terlihat sopan. Walau bagaimanapun aku
hanyalah seorang penumpang yang sedang meminta tolong.
“Oh, iya-iya”
TKA itu langsung menuruti apa yang kupinta, ia
mematikan kipas anginnya dan masinis yang kulihat sedang memeras dasinya itu
beranjak dari duduknya dan meminta maaf padaku.
“Maaf yah...” sepertinya dia menangkap nada kekesalan diantara pembicaraanku dengan TKA-nya. Aku mengangguk sambil tersenyum kecil. Oke, wajahnya memang dimaafkan.
Dia lumayan tampan dengan brewok halus di dagunya.
Aku berbalik dengan semburat merah di pipiku.
“Eh.. em... mba, sory!” Kedengarannya dia memanggilku. Atau bukan? Atau iya? Aku ragu untuk berbalik. “Mba?” sepertinya iya.
Aku berbalik dan dilanjutkan dengan lambaian tangannya untuk mendekat lagi ke kabin masinis. Seperti terhipnotis, aku menurut saja. Dia tersenyum disamping kendali masinisnya. “Kenapa?” aku grogi. Rasa dingin yang beberapa menit tadi menjadi raja dalam tubuhku mendadak hilang dan menghangat.
“Ini, pakai aja..” dia menyodorkan sebuah jacket kulit tebal berwarna coklat tua kepadaku. Aku mengernyitkan alis sambil menatapnya ragu. Untuk?
“Hah?” aku mendongak menatapnya. Dia tinggi sekali, kakinya
panjang dan baju masinis yang dipakainya terlihat pas dan keren. Dia
keren banget.
“Pake aja, dingin kan?”
“Tapi kan masnya juga kedinginan..”
“Gak papa.”
“Bajunya lepek juga tuh.”
“Gak papa udah pake aja,” dia tersenyum. Ya Tuhaaan aku
tak percaya kalau Dewa bisa dilihat dengan mata telanjang.
“Ini serius?” aku meyakinkan, dia mengangguk dan aku
bersyukur TKA-nya tahu diri untuk tidak bersiul-siul mengganggu kami. Kulihat
dia sedang speak membenarkan tali
sepatu, memeriksa isi tasnya dan sibuk dengan kertas laporan.
“Oh, iya, keretanya udah mau jalan. Aku harus tutup
pintu kabinnya.” Ujarnya pelan. “Pakai aja.” Dia mengusap lenganku dengan
halus, bermaksud menjauhkanku dari pintu kabin yang mau ia tutup. Dadaku
seperti digelitiki ribuan kupu-kupu.
“Bisa aja lu mas!” samar-samar kudengar TKA cempreng itu menggodanya. Aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku, apa kata penumpang lainnya ya. Ya Tuhan aku tidak bisa mengendalikan senyumku dan bertindak sewajarnya lagi.
“Udah gak dingin mba, makasih yah udah bantu lapor.” Ibu-ibu yang duduk disebelahku tersenyum. Aku membalas senyumnya. Syukurlah anaknya sudah tidak rewel lagi karena kedinginan.
“Sama-sama bu, udah lumayan yah gak dingin.” Kataku basa-basi.
Jelas tidak dingin, saat ini jacket kulit milik masinis
itu menempel di tubuhku dan aku tak mengerti kenapa rasanya begitu hangat
seperti sedang berhadapan dengan api unggun.
**********
“Anjirrr, romantisnya.. terus gimana lagi? Lanjut dong,
bisa kali nih gue bikin Novel, judulnya ‘Kereta mempertemukan aku dengan cinta’
ciee..” Goda Misel.
“Panjang gila judulnya, lebay lo!” aku menggelengkan
kepala. Misel memang berambisi menjadi penulis dan dia bilang selalu tertarik dengan
cerita-cerita yang kuceritakan padanya. Katanya kisahku selalu menarik dan
paling menarik selama ia dengar.
“Serius pertama kali lo ketemu Fian begitu?
Ngiriiiiiii... eh betewe ada lagi gak masinis yang gantengnya sampe langit
ketujuh? Kenaliiin.” Rengek Karra sambil mencengkram lenganku gemas. Aku
buru-buru menyingkirkan tangannya, dia manyun.
“Lanjut lagi dong Nik ceritanya.”
“Serius gak bete?”
“Nnggaaaaaak!!!” Kedua temanku memang paling gila. Dan
aku bersedia melanjutkannya lagi demi mereka.
*********
Bagaimana caranya aku bisa bertemu lagi dengannya?
Aku menenteng plastik hitam berisi jacket kulit berwarna coklat milik masinis yang bahkan namanya siapa pun aku tak tahu. Jacket ini baru selesai ku laundry dan karena hari ini lagi tidak ada kerjaan aku berniat main lagi ke stasiun walaupun aku tau kami bertemu di Bogor bukan berarti bisa bertemu lagi disana. Dia masinis dan kereta itu ada banyak sekali.
Dan siapa tau hari ini dia tidak sedang dinas.
Tapi kemungkinan buruk itu kutepis semua dengan
anggapan ‘Kalau jodoh pasti ketemu’
“Maaf pak, numpang tanya.” Aku menemukan seorang satpam
stasiun yang sedang bertugas dan kelihatannya dia sedang tidak sibuk.
“Silahkan mba, mau tanya apa?”dia tersenyum ramah. Aku
menggaruk kepalaku bingung. Apa yang mesti aku tanyakan padanya.
“Ini pak, em.. aku mau tanya, bapak tau gak masinis
yang tinggi.. em..”
“Masinis yang tinggi banyak mba.”
“Em.. iya, ini, aduuh pak aku gak tau namanya jadi
susah juga nih.”
“Tapi maaf, memangnya mba ada perlu apa?”
“Em ini pak, aku mau kasih ini” Aku menunjukan
bungkusan yang kubawa padanya. Dia tersenyum.
“Fans yah?” godanya sambil tertawa.
“Eh bukaaan!! Ya ampun—“
“Kalo masinis yang banyak fansnya saya tau.” Potongnya
tak sopan. “Alfian Koher, mas masinis yang rambutnya spikey, tinggi kaya model,
ganteng. Itu bukan?”
HAH?
“Em..kayanya sih iya. Aku liat sekilas doang sih..”
“Kalo bener yang itu, dia lagi dinas, tadi keretanya
baru aja berangkat ke Jakarta. Biasanya kalo udahan dinasnya dia suka makan
siang didepan stasiun deket taman topi. “
“Bapak tau banget!”
“Kan saya fansnya juga!” lawaknya dan kami tertawa
bareng. Jadi benar-benar banyak fansnya?
“Ceweknya banyak dong pak.” Aku mulai kepo. Si satpam
itu hanya menaikkan alisnya.
“Saya gak tau mba kalo pacar benerannya mah, tapi ada
satu cewek tiap hari naik kereta ke Bogor, kalo kebetulan lagi mas Fian
masinisnya ya dia naik di kabin.”
**********
“Jangan-jangan itu ceweknya yah, Nik?” Karra penasaran
dengan kelanjutannya. Cerita terpaksa kuhentikan ketika pelayan restoran memberikan
pesanan kami. Dengan lahap aku menyantap nasi goreng spesial yang ku pesan
tadi.
“Mending makan dulu, biar enak lanjutnya.” Kataku
sambil berusaha menelan sisa-sisa kenikmatan nasi goreng itu.
Beberapa menit yang lalu, Fian sempat membalas chat WA-ku, dia bilang selesai dinas akan menjemputku di Rotbak 88 yang dekat dengan stasiun Tangerang ini. FYI, kedua temanku ini, Misel dan Karra belum pernah bertemu langsung dengan Fian, dan kali ini pun aku tidak memberitahu mereka kalau Fian akan menjemputku.
“Sedap banget nih nasgornya.” Misel sama lahapnya denganku, tapi dia lebih lebay lagi. Aku dan Misel memang pecinta Nasi Goreng, sedangkan Karra Mie-nya.
“Karena kita lagi laper aja kali, Sel!”
“Duh, Leon ngajak jalan...” Karra menggaruk kepalanya.
Yang kutahu akhir-akhir ini hubungan antara Karra dan kekasihnya Leon memang
sedang tidak baik. Mereka sering putus nyambung seperti ABG labil pada umumnya.
Kalau Misel bilang, itu wajar ketika umur jadian mereka sudah menginjak 3 tahun
sejak masa SMA, kesal bilang putus, tapi setelah putus malah tidak mau
kehilangan karena sudah terbiasa. Begitulah.
‘Orang yang udah pacaran lama susah deh putusnya, paling putus entar nyambung lagi’
Misel selalu bilang begitu
setiap Karra dan Leon putus.
“Yaudah lo cabut aja, Karr!” Misel cengengesan.
“Yee, lo ngusir!”
“Btw temennya Leon yang di Australia namanya siapa,
Karr?” Misel mengalihkan pembicaraan, sedangkan Karra masih sibuk dengan
ponselnya. Kalau tidak salah, dulu memang Karra pernah bilang kalau Leon punya
sahabat di Australia, sejak SMA mereka partner yang baik, tadinya kukira homo
karena dari kisah yang diceritakan Karra memang mengarah kesana. Apalagi
keakraban mereka.
“Agavhni? Wey jangan main-main sama dia lo, Sel!”
“Apa salahnya? Yeee!”
“Dia bukannya udah punya cewek, Karr?” akhirnya aku
buka mulut soal ini. Aku sendiri pernah lihat ceweknya, cantik, rambutnya
pendek, tubuhnya mungil dan katanya dia masih saudara Leon. Engga jauh-jauh...
“Iya, anak Psikologi Untar. Temen SMA gue juga.” Karra
menaruh ponselnya di dalam tas. Dari gelagatnya sepertinya dia masih ingin
berlama-lama dengan kami, itu berarti dia tak ikut Leon.
“Cakepan mana sama gue?”
“DIA LAAAAH!!!”
Kami tidak janjian, tapi aku dan Karra meneriakinya berbarengan. Misel cemberut dan melempar kami dengan air disedotannya.
“Jorok lo, Sel!”
**********
Aku memang sengaja menunggunya di peron stasiun Bogor,
tapi dari banyak kereta yang berlalu lalang di depan dan belakangku, aku tak
melihat masinis yang keluar adalah dia. Waktu hampir sore dan aku tak mau
terlibat kejadian seperti minggu lalu, harus berlepek-lepek ria di dalam kereta
yang dingin. Walau ada bonusnya berupa jacket hangat dari masinis tampan itu.
“Pak... aku titip ini aja deh. Kalo ketemu tolong kasih
dia yah!” aku beranjak menemui satpam itu lagi dan memberikan kartu namaku
kepadanya.
“Sip mba, dia sering di mess Bogor kok, tapi emang kalo
lagi dicari kadang susah. Hehe!”
“Iya nih pak, aku nunggu daritadi gak ada. Makasih yah
pak!”
“Sama-sama mba..”
Pulang dengan tangan kosong.
“Saya gak tau mba kalo pacar benerannya mah, tapi ada satu cewek tiap hari naik kereta ke Bogor, kalo kebetulan lagi mas Fian masinisnya ya dia naik di kabin.”“Oh gitu yah pak..”“Tapi dia buta mba, dulu penumpang itu pernah diteriakin sama bapak-bapak katanya ‘Lagian orang buta ngapain si naek kereta’ sampai ribut di rangkaian, kebetulan mas Fian masinisnya, dia relai terus penumpang itu dibawa ke Kabin. Mungkin mas Fian kasihan aja kali, abis mas Fian mah bae mba orangnya.”
Tak perlu menunggu lama lagi, kereta yang akan
membawaku pulang sudah datang. Aku masih saja melirik kearah kabin masinis
untuk memastikan apakah masinisnya dia. Tapi lagi-lagi bukan. Dengan lemas aku
naik kedalam rangkaian yang tidak terlalu penuh itu, tapi sayang aku tidak
kebagian tempat duduk.
Aku terkantuk-kantuk ditengah perjalanan. Ponselku
berbunyi, pasti mamah. Aku merogohnya dari dalam tas, dengan mata setengah
terbuka langsung kuangkat telepon itu.
“Halo..”
Tapi suaranya berat. Ini bukan mama.
“Halo?”
Suaranya terlalu muda kalau papa yang menelpon.
Akhirnya aku membuka mataku dan melihat nomor dilayar ponsel.
“Iya, halo?”“Benar ini Anika?”“Iya benar, maaf dengan siapa ini?”“Anika yang tadi titip kartu nama sama Satpam stasiun Bogor?”Mataku langsung segar, setelah tau siapa dibalik telp ini. “I-iya.. benar.. ini masinis yang waktu itu kan?”“Aku Fian. Sekarang lagi dimana?”“Aku udah naik kereta nih, udah sampai Sudirman.”“Yah, sayang banget. Aku baru sampai stasiun Bogor.”“Jangan-jangan kereta yang tadi bersilangan yah?”“Iya!”“Oh, yaudah deh kapan-kapan lagi ketemunya.”“Oke, nanti aku hubungi kamu deh kalo lagi gak Dinas..”“Oke, makasih yah!”
“Aku yang makasih kamu udah repot-repot ke stasiun. Maaf yah, padahal gak dibalikin juga gak papa!”
“Engga papa kok, aku juga lagi jalan-jalan aja.”
“Yaudah sampai nanti yah, hati-hati dijalan.”“Makasih...”
Ya Tuhaaaaaan.... yaudah
sampai nanti/Hati-hati dijalan... ya Tuhaaaan.
Sampai besok pagi, aku tak bisa tidur diberi perhatian
seperti itu. Walau perhatian kecil yang sangat sederhana. Tapi..
“Cinta itu indah yah Nika..”
**********
“Anjrit parah jiwa sosial dia tinggi banget si, Nik. Beruntung
banget cewek yang dapetin dia...”
Memang, memang beruntung seseorang yang mendapatkan dia.
“Lucu banget si kamu, mirip banget sama adikku..”
“Oh kamu punya adik?”“Ada, tapi di Turkey tinggal sama kakek-nenek. Kalo gak ada Gia, aku pelukin nih!”“Yey!”
Patah..
Hancur..
“Gia pacar aku, dia emang buta, tapi cinta kan gak diliat dari mata..” tangan besarnya mengusap lembut rambut gadis yang duduk disebelahnya. Gadis itu tersenyum manis sekali. Sedangkan aku bersusah payah menahan air mata ini. Kalaupun airmata ini jatuh, paling-paling aku hanya mengatakan ‘Haru banget liat kalian berdua’
Dan satu perkataannya yang takkan pernah kulupa. “Kalo ketemu kamu duluan mungkin beda lagi ceritanya, but before you Nika there is someone who make me falling in love, dia gak cantik kaya kamu, tapi dia manis, dia gak sempurna, tapi dia—““Stop...”
“Hebatnya lo masih akrab sama dia sampe sekarang yah,
Nik..” Karra merespon dengan perkataan yang sejujurnya sangat ingin membuatku
berteriak sambil menangis.
“Temen itu gak akan putus sampe mati, Karr. Mau dia
anggap gue ade atau apapun versi dia, selama gue bisa bantu dalam konteks yang
sewajarnya mengingat dia punya pacar, oke aja sih!” aku pura-pura tegar. Tapi
kurasa Misel tahu kalau aku sangat sakit disini. Pandangannya terhadapku
seperti merasa bersalah sudah memintaku menceritakan ini semua.
“Lo bener, Nik. Semoga.. cewek berhati besar kaya lo
dapetin orang yang baiknya gak abis sampe tujuh turunan yah!” Karra menempelkan
kepalanya padaku. Aku memeluknya, Amin..
“Aminnn.. doain yah!”
“Yang terbaik selalu buat lo, Nik!” Misel yang berada
di ujung meja mengusap ubun-ubunku. Aku ingin menangis, sangat ingin menangis.
‘Aku di depan 88 nih’
Chat yang barusan kubuka adalah chat dari Fian. Aku menoleh kearah luar restoran dan melihat seseorang diatas ninja hitamnya sedang memainkan ponsel.
“Kenapa Nik?” Karra dan Misel yang belum tau kalau Fian
akan menemuiku disini, kebingungan.
“Gue punya kejutan buat lo berdua. Bentar yah!” aku
segera keluar dari mejaku dan berjalan keluar restoran untuk menemui Fian.
Tebakanku, mata Misel dan Karra pasti tak berhenti memperhatikan kemana aku
pergi.
“Hai!” sapaku pada Fian. Dia masih mengenakan seragam
masinisnya yang dibalut dengan jacket coklat yang dulu pernah dipinjamkannya
padaku. Apapun keadaannya dia selalu terlihat keren.
“Hai!” dia membuka Helmnya, menampilkan seluruh muka
Dewa yang selama ini aku kagumi. Kedekatan kami memang hanya sebatas teman dan
Fian sering bilang dia sangat menanggapku adik.
Asalkan bisa terus dekat...
Asalkan bisa terus melihatnya...
Aku tak pernah mempermasalahkan dia menganggapku apa
dan aku tak bohong, aku sangat menghormati Gia.
“Gak cape pulang dinas langsung kesini?”
“Udah biasa itu mah!”
“Yaudah parkir dulu aja.”
Dia memarkirkan motornya dengan aku yang masih setia
menunggunya selesai. Andai belum ada Gia...
“Ayo!” ujarnya setelah selesai. Aku menatao tubuh
tinggi atletisnya yang dibalut jacket kulit. Tubuhnya sangat profesional dan
pelukable. Andai aku berhak.
“Eh, aku mau kenalin sama sahabat-sahabat aku. Gabung
gak papa yah sama mereka.”

Izin bagiin ya kak
BalasHapus