Sabtu, 12 Oktober 2013

Before You



Aku melirik arlojiku, waktu sudah hampir maghrib  tetapi kereta yang dijanjikan announcer akan datang pukul 17: 35 tak kunjung datang. Masalahnya bukan hanya keterlambatan ini saja, melainkan langit diatas sana sudah memasang aba-aba akan memuntahkan hujannya. 

Bagaimana ini?

Kondisi di stasiun Bogor saat ini sangat amat tidak menyenangkan. Padat dan pengap dipenuhi oleh ribuan massa yang ingin pulang ke Jakarta. Padahal ini hari kerja, tapi bisa ramai seperti ini. Pasti karena penurunan harga tiket CL yang sangat drastis sekaligus penghapusan kereta ekonomi jurusan Jabodetabek.

BYURR!!!

Look! Sooo SHIT!



Benar-benar hujan dan sialnya aku berdiri di paling pinggir batas atap peron. Aku menyesalkan kenapa pihak stasiun tidak membuat atap sepanjang peron itu sendiri, kenapa ada bagian peron yang tak beratap, ini sungguh menyulitkan disituasi hujan seperti ini. Bahkan aku lihat ada beberapa orang terpaksa turun dari peron dan berlindung di dalam stasiun, walau stasiun itu sendiri sudah penuh dengan penumpang yang mengantri tiket.

Bagian tubuh sebelah kananku sudah lepek. Aku mengapit tasku disebelah kiri supaya tak kena hujan, sambil berdesakan dengan calon penumpang lainnya kami semua berharap kereta segera datang dan kami terselamatkan.

Tak lama kemudian, aku mendengar announcer menginformasikan bahwa kereta jurusan stasiun akhir Bukit Duri akan segera masuk. Aku bernafas lega. Beberapa penumpang perempuan berlari menuju peron yang tak beratap demi mendapat duduk di gerbong wanita, nanti. Karena gerbong wanita terletak dipaling ujung kereta, jadi mau tidak mau para wanita itu harus rela kehujanan kalau ingin mendapat duduk di gerbong wanita. Termasuk aku.

Tapi aku belum senekat mereka, mungkin nanti saja kalau kereta sudah sampai, aku akan berlari ke bagian ujung peron.

Dari arah timur aku melihat kereta yang kami tunggu sejak tadi sedang berjalan kearah stasiun. Lampunya terang benderang membuat mata sakit. Aku sudah lama tidak naik kereta, tapi sekalinya naik mendapat sensasi seperti ini. Beberapa penumpang yang tadinya menunggu di peron beratap, langsung berlarian ke peron yang tak beratap.

Sekali lagi aku menyesalkan, panjang kereta sepanjang peron yang dibuat, lalu kenapa atap peron hanya dibuat menutupi setengah bagian peron saja? Huh. Aku terpaksa berlari juga mengantri pintu gerbong wanita dibuka.

Hujan sangat deras. Sekali pijak bajuku langsung basah semua sampai dalam. Aku menggigil, kami semkua menggigil kedinginan. Damn, aku memang gadis tanpa payung lipat sejak dulu.

SREEEEKK

Akhirnya gerbongnya dibuka. Aku langsung berlari ke dalam kereta, berebut tempat duduk dengan penumpang lainnya. Oh, aku dapat! Astaga.. pas sekali kursi di gerbong wanita ini terisi semua dan tak ada yang berdiri satupun. Alhamdulilah...

Aku memeras rambutku yang basah, dalam sekejap lantai kereta langsung banjir oleh air hujan yang kami bawa dari peron. Becek, kotor dan... dingin. Ya Tuhan, dingin sekali. Kenapa TKA mereka memasang AC sedingin ini saat sedang hujan, mereka ingin kami mati?

Aku menggosok-gosok kedua tanganku, menghangatkan diri sendiri. Sialnya bajuku tipis dan aku hanya memakai rok selutut. Rasa dingin menyeruak masuk ke dalam tubuhku 
dan aku benar-benar tidak tahan.

“Mama, dingin..” seorang anak laki-laki berumur 10 tahunan meringkuk di pelukan 
ibunya. Aku menatapnya iba. Kemana TKA ini. Lama sekali berganti kabinnya.

“Ganti baju aja disini yah.” Ibunya menyarankan. Anak itu menggeleng, lalu menatapku dan mengedarkan pandangannya ke penumpang lainnya.

“Malu...” katanya. Ibunya membujuk sambil mengeluarkan baju ganti dari dalam tas si anak.

“Ade, ganti aja bajunya nanti sakit, gak usah malu. Aku gak liat deh!” aku ikut membujuknya. Ibunya tersenyum sambil terus membujuk anaknya supaya mau mengganti bajunya yang lepek.

Dan dengan malu-malu akhirnya dia mau.

“Lepek baju gue mas, bentar ganti dulu.”

“Di kabin aja si, udah telat!”

Aku menguping pembicaraan seorang masinis dengan TKAnya yang berjalan cepat dikabin penumpang menuju kabin masinis. Baju mereka juga terlihat basah, tapi tak selepek kami semua disini. Lalu kedua petugas itu masuk ke dalam kabin dan menutup pintunya, semoga mereka tak main-main lagi dan langsung menjalankan keretanya.

“Mah.. masih dingin. Celananya basah juga!” anak laki-laki yang tadi hampir menangis. Ibunya berkata ia tak membawa celana ganti. Huh, pantas saja bisa dingin sekali seperti ini, mereka menyalakan AC sekaligus kipas anginnya di dalam kereta.

Dengan inisiatif yang untungnya belum tumpul disaat kondisi seperti ini. Aku melangkahkan kakiku menuju kabin Masinis dan dengan nekat menggedor pintunya.

“Mas!! Mas buka dong!!”
Aku melihat wajah TKAnya dikaca kabin saat ia membuka gordennya dan tak lama kemudian membukakan pintu kabin untukku. “Kenapa mba?”

“Mas AC-nya kecilin dong, kalo gak kipasnya matiin aja. Gak tau pada kedinginan semua gitu?” walaupun aslinya marah tapi aku masih menurunkan tempo suaraku padanya. Supaya terlihat sopan. Walau bagaimanapun aku hanyalah seorang penumpang yang sedang meminta tolong.

“Oh, iya-iya”
TKA itu langsung menuruti apa yang kupinta, ia mematikan kipas anginnya dan masinis yang kulihat sedang memeras dasinya itu beranjak dari duduknya dan meminta maaf padaku.

“Maaf yah...” sepertinya dia menangkap nada kekesalan diantara pembicaraanku dengan TKA-nya. Aku mengangguk sambil tersenyum kecil. Oke, wajahnya memang dimaafkan.
Dia lumayan tampan dengan brewok halus di dagunya.
Aku berbalik dengan semburat merah di pipiku.

“Eh.. em... mba, sory!” Kedengarannya dia memanggilku. Atau bukan? Atau iya? Aku ragu untuk berbalik. “Mba?” sepertinya iya.

Aku berbalik dan dilanjutkan dengan lambaian tangannya untuk mendekat lagi ke kabin masinis. Seperti terhipnotis, aku menurut saja. Dia tersenyum disamping kendali masinisnya. “Kenapa?” aku grogi. Rasa dingin yang  beberapa menit tadi menjadi raja dalam tubuhku mendadak hilang dan menghangat.

“Ini, pakai aja..” dia menyodorkan sebuah jacket kulit tebal berwarna coklat tua kepadaku. Aku mengernyitkan alis sambil menatapnya ragu. Untuk?
“Hah?” aku mendongak menatapnya. Dia tinggi sekali, kakinya panjang dan baju masinis yang dipakainya terlihat pas dan keren. Dia keren banget.
“Pake aja, dingin kan?”
“Tapi kan masnya juga kedinginan..”
“Gak papa.”
“Bajunya lepek juga tuh.”
“Gak papa udah pake aja,” dia tersenyum. Ya Tuhaaan aku tak percaya kalau Dewa bisa dilihat dengan mata telanjang.
“Ini serius?” aku meyakinkan, dia mengangguk dan aku bersyukur TKA-nya tahu diri untuk tidak bersiul-siul mengganggu kami. Kulihat dia sedang speak membenarkan tali sepatu, memeriksa isi tasnya dan sibuk dengan kertas laporan.
“Oh, iya, keretanya udah mau jalan. Aku harus tutup pintu kabinnya.” Ujarnya pelan. “Pakai aja.” Dia mengusap lenganku dengan halus, bermaksud menjauhkanku dari pintu kabin yang mau ia tutup. Dadaku seperti digelitiki ribuan kupu-kupu.

“Bisa aja lu mas!” samar-samar kudengar TKA cempreng itu menggodanya. Aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku, apa kata penumpang lainnya ya. Ya Tuhan aku tidak bisa mengendalikan senyumku dan bertindak sewajarnya lagi.

“Udah gak dingin mba, makasih yah udah bantu lapor.” Ibu-ibu yang duduk disebelahku tersenyum. Aku membalas senyumnya. Syukurlah anaknya sudah tidak rewel lagi karena kedinginan.

“Sama-sama bu, udah lumayan yah gak dingin.” Kataku basa-basi.
Jelas tidak dingin, saat ini jacket kulit milik masinis itu menempel di tubuhku dan aku tak mengerti kenapa rasanya begitu hangat seperti sedang berhadapan dengan api unggun.

**********

“Anjirrr, romantisnya.. terus gimana lagi? Lanjut dong, bisa kali nih gue bikin Novel, judulnya ‘Kereta mempertemukan aku dengan cinta’ ciee..” Goda Misel.
“Panjang gila judulnya, lebay lo!” aku menggelengkan kepala. Misel memang berambisi menjadi penulis dan dia bilang selalu tertarik dengan cerita-cerita yang kuceritakan padanya. Katanya kisahku selalu menarik dan paling menarik selama ia dengar.
“Serius pertama kali lo ketemu Fian begitu? Ngiriiiiiii... eh betewe ada lagi gak masinis yang gantengnya sampe langit ketujuh? Kenaliiin.” Rengek Karra sambil mencengkram lenganku gemas. Aku buru-buru menyingkirkan tangannya, dia manyun.
“Lanjut lagi dong Nik ceritanya.”
“Serius gak bete?”
“Nnggaaaaaak!!!” Kedua temanku memang paling gila. Dan aku bersedia melanjutkannya lagi demi mereka.

*********

Bagaimana caranya aku bisa bertemu lagi dengannya?

Aku menenteng plastik hitam berisi jacket kulit berwarna coklat milik masinis yang bahkan namanya siapa pun aku tak tahu. Jacket ini baru selesai ku laundry dan karena hari ini lagi tidak ada kerjaan aku berniat main lagi ke stasiun walaupun aku tau kami bertemu di Bogor bukan berarti bisa bertemu lagi disana. Dia masinis dan kereta itu ada banyak sekali. 

Dan siapa tau hari ini dia tidak sedang dinas.

Tapi kemungkinan buruk itu kutepis semua dengan anggapan ‘Kalau jodoh pasti ketemu’

“Maaf pak, numpang tanya.” Aku menemukan seorang satpam stasiun yang sedang bertugas dan kelihatannya dia sedang tidak sibuk.
“Silahkan mba, mau tanya apa?”dia tersenyum ramah. Aku menggaruk kepalaku bingung. Apa yang mesti aku tanyakan padanya.
“Ini pak, em.. aku mau tanya, bapak tau gak masinis yang tinggi.. em..”
“Masinis yang tinggi banyak mba.”
“Em.. iya, ini, aduuh pak aku gak tau namanya jadi susah juga nih.”
“Tapi maaf, memangnya mba ada perlu apa?”
“Em ini pak, aku mau kasih ini” Aku menunjukan bungkusan yang kubawa padanya. Dia tersenyum.
“Fans yah?” godanya sambil tertawa.
“Eh bukaaan!! Ya ampun—“
“Kalo masinis yang banyak fansnya saya tau.” Potongnya tak sopan. “Alfian Koher, mas masinis yang rambutnya spikey, tinggi kaya model, ganteng. Itu bukan?”

HAH?

“Em..kayanya sih iya. Aku liat sekilas doang sih..”
“Kalo bener yang itu, dia lagi dinas, tadi keretanya baru aja berangkat ke Jakarta. Biasanya kalo udahan dinasnya dia suka makan siang didepan stasiun deket taman topi. “
“Bapak tau banget!”
“Kan saya fansnya juga!” lawaknya dan kami tertawa bareng. Jadi benar-benar banyak fansnya?
“Ceweknya banyak dong pak.” Aku mulai kepo. Si satpam itu hanya menaikkan alisnya.
“Saya gak tau mba kalo pacar benerannya mah, tapi ada satu cewek tiap hari naik kereta ke Bogor, kalo kebetulan lagi mas Fian masinisnya ya dia naik di kabin.”

**********

“Jangan-jangan itu ceweknya yah, Nik?” Karra penasaran dengan kelanjutannya. Cerita terpaksa kuhentikan ketika pelayan restoran memberikan pesanan kami. Dengan lahap aku menyantap nasi goreng spesial yang ku pesan tadi.
“Mending makan dulu, biar enak lanjutnya.” Kataku sambil berusaha menelan sisa-sisa kenikmatan nasi goreng itu.

Beberapa menit yang lalu, Fian sempat membalas chat WA-ku, dia bilang selesai dinas akan menjemputku di Rotbak 88 yang dekat dengan stasiun Tangerang ini. FYI, kedua temanku ini, Misel dan Karra belum pernah bertemu langsung dengan Fian, dan kali ini pun aku tidak memberitahu mereka kalau Fian akan menjemputku.

“Sedap banget nih nasgornya.” Misel sama lahapnya denganku, tapi dia lebih lebay lagi. Aku dan Misel memang pecinta Nasi Goreng, sedangkan Karra Mie-nya.
“Karena kita lagi laper aja kali, Sel!”
“Duh, Leon ngajak jalan...” Karra menggaruk kepalanya. Yang kutahu akhir-akhir ini hubungan antara Karra dan kekasihnya Leon memang sedang tidak baik. Mereka sering putus nyambung seperti ABG labil pada umumnya. Kalau Misel bilang, itu wajar ketika umur jadian mereka sudah menginjak 3 tahun sejak masa SMA, kesal bilang putus, tapi setelah putus malah tidak mau kehilangan karena sudah terbiasa. Begitulah.
‘Orang yang udah pacaran lama susah deh putusnya, paling putus entar nyambung lagi’
 Misel selalu bilang begitu setiap Karra dan Leon putus.

“Yaudah lo cabut aja, Karr!” Misel cengengesan.
“Yee, lo ngusir!”
“Btw temennya Leon yang di Australia namanya siapa, Karr?” Misel mengalihkan pembicaraan, sedangkan Karra masih sibuk dengan ponselnya. Kalau tidak salah, dulu memang Karra pernah bilang kalau Leon punya sahabat di Australia, sejak SMA mereka partner yang baik, tadinya kukira homo karena dari kisah yang diceritakan Karra memang mengarah kesana. Apalagi keakraban mereka.
“Agavhni? Wey jangan main-main sama dia lo, Sel!”
“Apa salahnya? Yeee!”
“Dia bukannya udah punya cewek, Karr?” akhirnya aku buka mulut soal ini. Aku sendiri pernah lihat ceweknya, cantik, rambutnya pendek, tubuhnya mungil dan katanya dia masih saudara Leon. Engga jauh-jauh...
“Iya, anak Psikologi Untar. Temen SMA gue juga.” Karra menaruh ponselnya di dalam tas. Dari gelagatnya sepertinya dia masih ingin berlama-lama dengan kami, itu berarti dia tak ikut Leon.
“Cakepan mana sama gue?”
“DIA LAAAAH!!!”

Kami tidak janjian, tapi aku dan Karra meneriakinya berbarengan. Misel cemberut dan melempar kami dengan air disedotannya.

“Jorok lo, Sel!”

**********

Aku memang sengaja menunggunya di peron stasiun Bogor, tapi dari banyak kereta yang berlalu lalang di depan dan belakangku, aku tak melihat masinis yang keluar adalah dia. Waktu hampir sore dan aku tak mau terlibat kejadian seperti minggu lalu, harus berlepek-lepek ria di dalam kereta yang dingin. Walau ada bonusnya berupa jacket hangat dari masinis tampan itu.

“Pak... aku titip ini aja deh. Kalo ketemu tolong kasih dia yah!” aku beranjak menemui satpam itu lagi dan memberikan kartu namaku kepadanya.
“Sip mba, dia sering di mess Bogor kok, tapi emang kalo lagi dicari kadang susah. Hehe!”
“Iya nih pak, aku nunggu daritadi gak ada. Makasih yah pak!”
“Sama-sama mba..”

Pulang dengan tangan kosong.

“Saya gak tau mba kalo pacar benerannya mah, tapi ada satu cewek tiap hari naik kereta ke Bogor, kalo kebetulan lagi mas Fian masinisnya ya dia naik di kabin.”
“Oh gitu yah pak..”
“Tapi dia buta mba, dulu penumpang itu pernah diteriakin sama bapak-bapak katanya ‘Lagian orang buta ngapain si naek kereta’ sampai ribut di rangkaian, kebetulan mas Fian masinisnya, dia relai terus penumpang itu dibawa ke Kabin. Mungkin mas Fian kasihan aja kali, abis mas Fian mah bae mba orangnya.”

Tak perlu menunggu lama lagi, kereta yang akan membawaku pulang sudah datang. Aku masih saja melirik kearah kabin masinis untuk memastikan apakah masinisnya dia. Tapi lagi-lagi bukan. Dengan lemas aku naik kedalam rangkaian yang tidak terlalu penuh itu, tapi sayang aku tidak kebagian tempat duduk.
Aku terkantuk-kantuk ditengah perjalanan. Ponselku berbunyi, pasti mamah. Aku merogohnya dari dalam tas, dengan mata setengah terbuka langsung kuangkat telepon itu.
“Halo..”
Tapi suaranya berat. Ini bukan mama.
“Halo?”
Suaranya terlalu muda kalau papa yang menelpon. Akhirnya aku membuka mataku dan melihat nomor dilayar ponsel.
“Iya, halo?”
“Benar ini Anika?”
“Iya benar, maaf dengan siapa ini?”
“Anika yang tadi titip kartu nama sama Satpam stasiun Bogor?”
Mataku langsung segar, setelah tau siapa dibalik telp ini. “I-iya.. benar.. ini masinis yang waktu itu kan?”
“Aku Fian. Sekarang lagi dimana?”
“Aku udah naik kereta nih, udah sampai Sudirman.”
“Yah, sayang banget. Aku baru sampai stasiun Bogor.”
“Jangan-jangan kereta yang tadi bersilangan yah?”
“Iya!”
“Oh, yaudah deh kapan-kapan lagi ketemunya.”
“Oke, nanti aku hubungi kamu deh kalo lagi gak Dinas..”
“Oke, makasih yah!”
“Aku yang makasih kamu udah repot-repot ke stasiun. Maaf yah, padahal gak dibalikin juga gak papa!”
“Engga papa kok, aku juga lagi jalan-jalan aja.”
“Yaudah sampai nanti yah, hati-hati dijalan.”
“Makasih...”

Ya Tuhaaaaaan.... yaudah sampai nanti/Hati-hati dijalan... ya Tuhaaaan.
Sampai besok pagi, aku tak bisa tidur diberi perhatian seperti itu. Walau perhatian kecil yang sangat sederhana. Tapi..

“Cinta itu indah yah Nika..”


**********

“Anjrit parah jiwa sosial dia tinggi banget si, Nik. Beruntung banget cewek yang dapetin dia...”

Memang, memang beruntung seseorang yang mendapatkan dia.

“Lucu banget si kamu, mirip banget sama adikku..”
“Oh kamu punya adik?”
“Ada, tapi di Turkey tinggal sama kakek-nenek. Kalo gak ada Gia, aku pelukin nih!”
“Yey!”

Patah..
Hancur..

“Gia pacar aku, dia emang buta, tapi cinta kan gak diliat dari mata..” tangan besarnya mengusap lembut rambut gadis yang duduk disebelahnya. Gadis itu tersenyum manis sekali. Sedangkan aku bersusah payah menahan air mata ini. Kalaupun airmata ini jatuh, paling-paling aku hanya mengatakan ‘Haru banget liat kalian berdua’
Dan  satu perkataannya yang takkan pernah kulupa. “Kalo ketemu kamu duluan mungkin beda lagi ceritanya, but before you Nika there is someone who make me falling in love, dia gak cantik kaya kamu, tapi dia manis, dia gak sempurna, tapi dia—“
“Stop...”

“Hebatnya lo masih akrab sama dia sampe sekarang yah, Nik..” Karra merespon dengan perkataan yang sejujurnya sangat ingin membuatku berteriak sambil menangis.
“Temen itu gak akan putus sampe mati, Karr. Mau dia anggap gue ade atau apapun versi dia, selama gue bisa bantu dalam konteks yang sewajarnya mengingat dia punya pacar, oke aja sih!” aku pura-pura tegar. Tapi kurasa Misel tahu kalau aku sangat sakit disini. Pandangannya terhadapku seperti merasa bersalah sudah memintaku menceritakan ini semua.
“Lo bener, Nik. Semoga.. cewek berhati besar kaya lo dapetin orang yang baiknya gak abis sampe tujuh turunan yah!” Karra menempelkan kepalanya padaku. Aku memeluknya, Amin..
“Aminnn.. doain yah!”
“Yang terbaik selalu buat lo, Nik!” Misel yang berada di ujung meja mengusap ubun-ubunku. Aku ingin menangis, sangat ingin menangis.

‘Aku di depan 88 nih’

Chat yang barusan kubuka adalah chat dari Fian. Aku menoleh kearah luar restoran dan melihat seseorang diatas ninja hitamnya sedang memainkan ponsel.
“Kenapa Nik?” Karra dan Misel yang belum tau kalau Fian akan menemuiku disini, kebingungan.
“Gue punya kejutan buat lo berdua. Bentar yah!” aku segera keluar dari mejaku dan berjalan keluar restoran untuk menemui Fian. Tebakanku, mata Misel dan Karra pasti tak berhenti memperhatikan kemana aku pergi.
“Hai!” sapaku pada Fian. Dia masih mengenakan seragam masinisnya yang dibalut dengan jacket coklat yang dulu pernah dipinjamkannya padaku. Apapun keadaannya dia selalu terlihat keren.
“Hai!” dia membuka Helmnya, menampilkan seluruh muka Dewa yang selama ini aku kagumi. Kedekatan kami memang hanya sebatas teman dan Fian sering bilang dia sangat menanggapku adik.

 Asalkan bisa terus dekat...

Asalkan bisa terus melihatnya...

Aku tak pernah mempermasalahkan dia menganggapku apa dan aku tak bohong, aku sangat menghormati Gia.

“Gak cape pulang dinas langsung kesini?”
“Udah biasa itu mah!”
“Yaudah parkir dulu aja.”
Dia memarkirkan motornya dengan aku yang masih setia menunggunya selesai. Andai belum ada Gia...
“Ayo!” ujarnya setelah selesai. Aku menatao tubuh tinggi atletisnya yang dibalut jacket kulit. Tubuhnya sangat profesional dan pelukable. Andai aku berhak.
“Eh, aku mau kenalin sama sahabat-sahabat aku. Gabung gak papa yah sama mereka.”
Dia menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum sambil mengusap ubun-ubunku. “Gak masalah..”


Continued..........

1 komentar: