"Guys... kenalin..." aku menggandeng Fian sampai ke meja dimana aku, Misel dan Karra duduk. Karra melongo, apalagi Misel. Aku bisa merasakan hawa kekaguman mereka, apalagi Fian masih mengenakan seragamnya, walau dibalut dengan jacket kulit hitam. Sudah keberapa kalinya kukatakan, kalau Fian dan seragamnya itu perpaduan yang sempurna sekali. "Ini Fian!" lanjutku yang sengaja menggantung kalimatku tadi. Karra berkedip dua kali, Misel? Uh aku tak tahu berapa liter air liur yang mengalir dari mulutnya.
"Oh, eh.. em, gue Karra!" Karra berdiri sambil mengulurkan tangannya, disusul dengan Misel yang hanya tersenyum tanpa menyebutkan namanya.
"Duduk sini, Fi-"
"Eh, engga-engga, gue pindah deh. Lo disitu aja!" Karra pindah duduk ke kursi disebelah Misel. Aku bersyukur mempunyai teman se peka Karra.
"Gak papa nih gue gabung?" Pertanyaan basa-basi Fian pada Misel dan Karra. Mereka berdua langsung menggeleng.
"Gak papa, kita juga lagi iseng aja kumpul disini, ya kan?" aku tersenyum pada Fian, lalu menyebar ke Karra dan Misel, mereka berdua lagi-lagi kompak. Kali ini tertawa dengan grogi di depan Fian.
"Kita sih gak asing lagi sama lo, Anika sering cerita kok!" Misel berulah, aku mencubit tangannya dengan gemas. Perkataan Misel barusan membuat Fian menoleh kearahku dengan pandangan aneh. Aku hanya menggaruk kepala sambil tersenyum kaku.
"Misel emang gitu, dia suka maksa aku cerita apa aja. Katanya biar ada inspirasi nulis novel!" aku membela diri, Fian mengangguk paham.
"Jadi, lo suka nulis?" Fian bertanya pada Misel yang disusul dengan anggukan semangatnya. "Sama kaya adik gue. Dari umur 6 tahun dia sering ngarang-ngarang dongeng, terus suru gue bacain sebelum dia tidur dan dia bangga banget kalo ada yang bilang ceritanya bagus. Biasanya orang yang bilang gitu diberi penghargaan berupa lolipop yang dia beli sendiri pake uang jajannya." Alfian bercerita panjang lebar tentang adiknya dengan lepas kepada Karra dan Misel. Aku lihat Misel sangat antusias, jangan-jangan jaman kecilnya juga seperti itu.
"Gila, amaze banget adik lo. Nulisnya produktif gak dari kecil? Atau jangan-jangan dia udah ngelahirin banyak novel?"
"Nanya satu-satu kali Sel,"
"Yee, lo gak punya topik mah kalem aja!"
"Udah deh. Lo berdua kalo deket pasti gitu!"
Aku mendengar Fian tertawa melihat tingkah kedua temanku. Diantara kami bertiga memang aku yang paling normal. "Lucu yah kalian. Kompak!"
"Apanya yang kompak. Ini nih biang rese!" Karra menyikut lengan Misel dan Misel langsung membalasnya.
"Diem lo! Oh ya.. jawab dong pertanyaan gueee..." Misel merajuk pada Fian. Kalau sudah membicarakan soal tulisan. Misel pasti paling depan.
"Namanya Alkamila Koher, buku pertama sekaligus terakhir yang ditulisnya adalah dongeng tentang kura-kura yang terlambat mengantarkan obat untuk ibunya yang sakit karena jalannya sangat lelet..."
"Pertama dan terakhir?" Karra dan Misel hampir berbarengan menanyakan hal itu. Aku yang memang sudah tau memilih diam saja, biar Fian yang melanjutkan hak berceritanya.
"Tahun 2009 dia ninggalin gue, kakek dan nenek karena penyakit jantung yang dideritanya sejak lahir. Waktu itu umurnya 15 tahun dan buku dongeng yang ditulisnya itu saat dia berusia 7 tahun."
Aku melihat ekspresi sendu Karra dan Misel. Mereka seperti hendak mengatakan sesuatu tapi bingung untuk mengeluarkannya. "Alkamila itu cantiiik banget, kaya gue!" untuk menghilangkan suasana haru yang menyelimuti kami, aku berusaha mencairkannya. Fian tertawa kecil sedangkan Karra dan Misel kembali memasang ekspresi abstrak khas mereka kalau salah satu diantara kami ada yang narsis.
"Iya.. emang mirip kamu!" Fian menimpali dengan tegas. Aku menjulurkan lidah kearahnya. Kuakui antara aku dan Alkamila memang sedikit mirip dibagian hidung dan rambut, tapi kurasa kalau diteliti lebih jelas malah tidak mirip sama sekali.
"Lo berapa bersaudara? Oya, tadi lo bilang Kamila itu di Turkey, lo orang sana?" kali ini Karra bertanya.
"Kita cuma berdua. Em... Alm. Bokap yang Turkey, nyokap asli sini."
"Oh.. sory, gue gak tahu kalo-"
"Gak papa..."
"Ayah sama Ibunya Fian meninggal karena kecelakaan, dan waktu itu Mila masih kecil, akhirnya Mila dibawa ke Turkey untuk dirawat disana, dan Fian disini sendiri...-"
"Cari kerja!" Fian memotong cerita yang kuambil alih, masih dengan senyumannya. Waktu itu pertama kali ia menceritakan hal itu padaku, wajahnya sangat stress dan dia terlihat begitu merindukan keluarganya. Ayah dan ibunya anak tunggal, orangtua ibunya yang tinggal di Indonesia sudah meninggal. Satu-satu keluarga yang ia punya hanya kakek dan neneknya yang tinggal di Turkey. Dia disini sebatang kara, tak punya siapa-siapa sama sekali, tapi tekadnya menjadi masinis seperti apa yang diimpikan ayahnya alhamdulilah sudah terkabulkan.
'Seengganya jadi masinis aku masih bisa tinggal bareng temen-temen di mess. Rame-rame ngelakuin hal yang seru. Jadi gak ngerasa sepi apalagi sendiri...'Itu yang dikatakannya padaku.
"Ya ampun.. sedih banget yah pasti.."
"Eh, udah ah melownya, makan lagi deh!" aku tak ingin kami berlarut membahas ini semua. Semakin dalam mengenal Fian, yang kutakut malah menorehkan belas kasihan terhadapnya. Aku tahu Fian seseorang yang tegar. Aku tahu dia kakak yang sangat baik sekaligus anak paling berbakti. Kejadian ditinggal mati, pasti sangat menyayat hatinya.
Andai akulah orang pertama yang dipeluknya saat ia ada masalah, aku pasti bisa lebih leluasa dengan ini semua.
"Eh Fian belom pesen?" Misel mengingatkan. Aku hampir lupa, pasti dia sudah lapar habis dinas tadi.
"Gak papa, belum laper, tadi udah makan bekel dikereta soalnya."
Aku mengangguk paham. Hanya aku yang tau... ya... setiap hari Fian memakan bekal yang dibawakan Gia. Memang bukan masakan Gia, melainkan masakan ibunya, tapi tetaplah Gia yang mengantarkannya untuk Fian. Romantis sekali... hatiku seperti teriris saat Fian sangat bahagia menceritakan hal itu, betapa bangganya dia bisa mengenal Gia dan menjadi kekasihnya. Aku pernah menangis dihadapannya karena tak bisa menahan sakit yang diderita oleh hatiku saat itu, tapi aku selalu berbohong dengan mengatakan bahwa aku menangis karena terharu, setelahnya Fian pasti mengusap ubun-ubunku dan tangisku akan semakin dalam lagi ketika dia melakukannya.
Hatinya sudah milik Gia...
Aku tak bisa apa-apa...
"Yakin?" aku menggodanya dengan adegan suapan nikmat yang kubuat-buat.
"Iseng aja nih.. yakin!" lagi-lagi dia mengusap ubun-ubunku. Terkadang aku ingin mengatakan jangan melakukan hal itu lagi, karena entah kenapa sikap lembutnya itu malah membuatku semakin terluka.
"Gia tau gak kamu sama aku?" tanyaku pelan, walau aku tak bisa menjamin Karra dan Misel tidak dengar.
Fian mengangguk mantap. Gia... Tuhan memang sangat adil, dengan kondisi ketidaksempurnaanmu dibanding manusia lainnya, kamu diberi kekasih seperti Fian yang setia dan sangat menyayangimu.
"Udah, tadi pagi dia nitip sesuatu, katanya mau dikasih ke kamu. Makanya tadi aku tanya hari ini kamu ada acara atau engga, aku mau ketemu."
tak sengaja aku menjatuhkan sendokku yang membuat Karra dan Misel terkaget, Aku langsung meminta maaf pada mereka dan juga Fian. Dadaku sesak, entah ini keberapa kalinya aku mengalami kondisi yang sama seperti ini. Fian menemuiku bukan karena ingin bertemu denganku, tapi karena Gia. Satu-satunya yang kuharapkan saat ini hanyalah: Tidak menangis didepan mereka, terlebih Fian.
"Kenapa Nik?"
"Gak papa, kesalahan teknis. Hehe!" cengirku saat Karra bertanya, sekilas kutatap Misel yang menatapku tak wajar. Aku tahu Misel mengerti. Rasanya aku ingin cepat-cepat menangis dipelukan Misel saat ini juga.
"Gia titip apa Fi?"
Fian merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink yang ditengahnya bertuliskan namaku. Aku mengernyit. Kotak selebar kotak sepatu itu diberikannya padaku, aku menerimanya bingung.
"Apa nih?"
"Aku gak tau, tapi katanya itu sesuatu yang dibuat Gia, khusus buat kamu. Dia mau bilang makasih waktu itu udah ditolongin bawa belanjaan."
"Oh ya ampun gitu doang sih, pacar kamu emang pembalas budi banget yah." jujur, lidahku kelu saat menyebut kata 'pacar kamu' pada Fian. Apa boleh buat, aku ingin mencoba sesantai mungkin dihadapannya.
"Dia emang gitu, ditolong sekali, balesnya banyak banget!" aku mendengar ada rasa bangga saat Fian mengatakan itu. Saat ingin membuka kotak tersebut, mataku sempat melihat tatapan Misel. Aku sedang tak ingin menatap Misel. Menatapnya hanya akan membuatku menjatuhkan air mata, karena biasanya dipelukannyalah aku menangisi Fian.
"Aku buka dirumah deh, Bilang Gia makasih yah." Fian hanya mengangguk dan kami meneruskan makan kami.
Kamu mencintainya, menyayanginya, menginginkannya. Tapi tak bisa menggapainya, entah tak bisa atau belum bisa. Pada akhirnya yang terjadi denganmu hanyalah berusaha merelakannya...
**********
"Thanks yah, Fi... ngerepotin nih!" aku turun dari ninjanya sambil membuka helm. Helm itu milik Gia, begitu yang tertulis disana, Gianny Teressa dan aku lihat Fian selalu membawanya.
"Enggak kok, lagian yang mau ketemu kamu kan aku!" dia tersenyum. Harusnya kamu meralat kata-katamu Fi, sebenarnya yang mau ketemu aku Gia, tapi melewati kamu.
"Hehe, yaudah pulang sana udah malem. Besok dinas lagi yah?"
"Iya, pagi banget lagi. Gini deh jadi masinis, orang pada weekend kita kerja."
"Sabarin aja, lagian itukan cita-cita kamu."
Dia tersenyum simpul. Aku suka bibir tipisnya saat tersenyum. "Iyasih, yaudah kamu masuk gih." perintahnya. Aku mengangguk tapi belum beranjak.
"Kamu pergi dulu aja, baru aku masuk."
"Gak papa, kamu masuk dulu aja. Aku pastiin dulu kalo kamu gak kepeleset pas lewat pager!" ledeknya. Aku memukul lengannya cukup keras. Waktu itu aku pernah terpeleset di teras karena lantainya habis dipel dan Fian melihatnya.
"Ih rese, masih inget aja!"
Aku memukulnya sekali lagi, dia hanya tertawa sambil mengusap lengannya. Lalu terdengar bunyi ponsel dari dalam saku celananya. Melihat sebentar kearah ponsel, lalu dia mengangkat telepon itu.
"Iya? Oh, ini aku baru mau pulang dari rumah Nika. Udah kok, iya. Yaudah aku langsung pulang ya. Oke, Sleep tight, bye..."Aku bisa menebak kalau itu pasti dari Gia.
"Gia mastiin aku kasih engga barangnya ke kamu. Katanya nanti aku simpen tidur lagi. Ada-ada aja nih anak!" dia berbicara sambil menatap layar ponselnya. Aku hanya tersenyum tipis namun perih.
"Ehm.. Fi, mau tanya sesuatu deh."
"Apa?"
"Gia suka cemburu gak si kalo aku lagi sama kamu? Jujur aja gak papa. Aku juga kadang gak enak."
"Engga kok dia gak pernah bilang apa-apa. Cemburu engganya si gak tau, tapikan realnya emang kita gak ngapa-ngapain, jadi apa yang harus dicemburuin?"
"Iya juga sih.. yaudah sana pulang gih!"
"Kamu gak mau masuk duluan?"
"Kamu pergi dulu baru aku masuk..."
Fian menyerah, dia memasang kembali helmnya dan menyalakan mesin motornya. Aku... sampai kapan aku harus terus-terusan seperti ini, memendam cinta yang begitu besar untuknya.
"Em... Fi!" aku menarik lengan jacketnya. Aku sayang kamu... aku sayang kamu... aku sayang kamu. "Hati... hati." aku tergagap mengucapkan kata-kata itu, gumpalan airmataku sudah memaksa untuk turun. "Hati-hati!" ujarku cepat dan langsung berbalik menuju pagar rumahku. Aku takkan mengeluarkan airmata ini didepan Fian.
Aku sayang kamu Fi...
"Anika..." dia memanggilku. Airmataku sudah jatuh, aku bisa memastikan kalau hidung dan mataku sudah bengkak. Aku tak ingin menoleh, aku tak ingin dia melihatku. "Anika..." aku dengar mesin motornya kembali mati. Ya Tuhan.. tolong jangan hadapkan aku pada situasi ini.
"Nika..." aku membeku saat merasakan tangannya memeluk pinggangku dari belakang. "Aku udah tau dari dulu, tapi kalo aku kasih tau ke kamu, kamu pasti bakal lebih sakit lagi dan kita jadi renggang. Makanya aku diam, makanya aku pura-pura gak peka." dia diam begitu lama. Tangisku malah menjadi-jadi, entah mengapa airmata ini tak mau berhenti dan aku tak bisa berkata apa-apa.
"Maaf... kalau ternyata sebelum kamu ada seseorang yang udah aku sayang lebih dulu, perasaan sayang emang bisa datang berkali-kali. Tapi ketika cinta, hati itu udah punya pemiliknya dan sulit untuk mencintai yang lain lagi."
Tangisku menjadi-jadi saat Fian mengatakan semuanya. Dia sudah menolakku bahkan sebelum aku menyatakan cinta sesungguhnya padanya. Aku tau dia sangat mencintai Gia, aku juga tak mengharapkan hati ini dibalas olehnya. Aku tak pernah memaksanya. Aku hanya seorang cinta diam-diam yang mencintai sendirian.
Dengan pelan kusingkirikan tangannya dari pinggangku. Dia mundur beberapa langkah seperti tahu kalau aku ingin berbalik. Aku memejamkan mataku sekali, mencoba menenangkan pikiran sekaligus menahan airmata yang terus ingin membasahi pipi.
Dengan senyum mengembang aku berbalik menatapnya. "Sayang sama seseorang gak pernah salah kan Fi, aku gak minta kamu buat balas perasaan aku. Aku cuma sayang sama kamu dan itu cukup." aku terus tersenyum dihadapannya yang justru memperlihatkan wajah sendunya. "Pulang gih, atau aku hubungi Gia kalau pacarnya genit peluk-peluk aku." Aku tertawa kecil yang sama sekali tak direspon olehnya. Dia masih terus menatapku.
"Maaf udah buat kamu sedih.. coba aku gak pernah datang, aku gak pernah kasih jacket ini ke kamu, aku gak pern-"
"Aku gak pernah nekat balik lagi ke stasiun untuk cari tahu kamu, gak nekat titipin kartu nama aku ke satpam stasiun. Pasti aku gak pernah ngerasain rasanya jatuh cinta sama orang." Aku mengusap airmata yang menetes dipipiku. "Huh.. ya ampun nangis mulu nih. Udah ah, katanya dinas pagi, nanti telat bangun lho. Pulang sana, aku masuk duluan yah!" tanpa pikir panjang aku langsung berjalan kearah pagar rumahku. Aku tak ingin menangis didepannya lagi, aku tak ingin rasa sayangku menambah beban dipikirannya, aku tak ingin rasa sayang ini membuatnya kerepotan memikirkan sesuatu yang harusnya tak dipikirkannya, aku tak ingin membuatnya menderita lagi dengan segala masalah. Sudah cukup Fian sebatang kara, banting tulang memikirkan hidupnya, meniti karirnya, meraih cita-citanya. Tak sepantasnya dia memikirkan hal sesepele ini, hanya karena tak membalas cinta seorang gadis dan membuatnya menangis dihadapannya langsung.
"Baru kali ini aku liat ada cewek yang nangis buat aku. Rasanya... rasanya sakit yah, Nik..." dia menghentikanku dengan kata-katanya. Sakit? Aku menoleh dari jarak yang lumayan jauh darinya. "Aku sakit apalagi kamu?" lanjutnya.
"Gak usah mikirin aku, aku gak papa lagi Fi, gak separah yang kamu bayangin kok. Simple aja, gak selamanya kita bisa dapetin apa yang kita inginkan. Bukannya Tuhan kasih sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan? Mungkin aku gak butuh kamu, makanya Tuhan gak kasih kamu buat aku. Please... kamu pulang yah. Aku mau masuk." kali ini aku benar-benar meninggalkannya. Aku berlari ke dalam rumah dengan genangan airmata yang tak bisa kubendung lagi. Aku tak tahu Fian sudah pulang atau belum, dan aku mencoba tak memperdulikannya. Kali ini aku ingin menenangkan diriku sendiri. Menjernihkan pikiranku lagi tentang ketakutan bahwa hubunganku dengan Fian akan renggang setelah ini.
Di kejadian malam ini, sesungguhnya dalam hati kecilku mengharapkan akan ada After setelah Before yang diucapkannya. Tapi itu hanya pemikiran egoisku.
TING!
'Nika, kita kaya biasa lagi yah. Aku sayang kamu...'
Bukankah dia bilang sayang bisa berkali-kali? Sama saja seperti sayang bisa untuk siapa saja kan? Tidak special?
'Aku juga, Fi'
'Aku masih diluar kalo kamu belum tidur'
'Aku tidurnya besok pagi'
'Aku disini sampai pagi'
'Keretanya siapa yang bawa, nanti?'
'Um... kereta bisa jalan sendiri kok'
'Aku kira kamu punya remote controlnya?'
Cinta... datangnya tak terduga, Patahnya pun tak terduga
THE END
Gatau. Gatau. Pokoknya kalo yang bikin ka atika, nyeseknya kerasa banget. Nangisnya gak abis-abis. Sakitnya itu yaaah :'
BalasHapusSumpah yah kak, gak pernah bosen baca cerita kaka yang ini sama before you. Ngena banget, Ngenaaaa T__T
BalasHapus