Minggu, 22 Desember 2013

Misel: My Hottest Guy


Orang mengatakan, ketika kita sedang jatuh cinta, segala sesuatu tampak indah..
Tapi menurutku, ketika kita benar-benar jatuh cinta, kita tidak dapat menemukan apa-apa yang lebih indah dari cinta kita.


 ******

Argh! Sikat gigikuuu!! Bocah kecil sialan itu memakainya lagi. Aku paling benci jika ia menyentuh barang-barangku, terutama yang berada di kamar mandi. Plis, itu sensitif banget. Sikat gigi ini salah satunya, aku jijik membayangkan dia yang baru bangun tidur lalu membersihkan giginya dengan sikat gigiku untuk menghilangkan - iyuh - 'itu' - oh Tuhan!

"BEDEBAH!!"



"Misel.. kenapa lagi?" ibuku. Nyonya Celia Samantha, memelototiku ketika ia melintasi kamar mandi. Aku menggeram kesal dan membuang sikat gigi ungu-ku ke tong sampah. Oh baby purplee..

"Tanyakan anakmu si ansos itu!"
"Dia adikmu, Misel..."
"Adik? Itu anak orang, bukan adikku. Cih!"
"MISEL!"

Aku tak memerdulikannya. Kemarahanku sudah sampai ke ubun-ubun. Ini bukan yang pertama kalinya ia memakai sikat gigiku, tapi entah untuk yang keberapa kalinya. Gara-gara si kecil sialan itu aku jadi malas mandi, lagipula aku harus membeli sikat gigi baru dulu. So stupid dumber!

Drrt.... Drrt...

Aku meraih ponselku dan menggeser kunci layarnya, sehingga menampilkan sesosok wajah seseorang yang tertutup layar kecil berbentuk logo whatsapp.

Anika: Sel, jemput gue yah
Misel: Sama Fian sana. Gue males ngampus

Anika: Ish! Dibilang gue udah lost contact. Yaudah gue sama Karra..
Misel: Ngambek! Entar 10 menit lagi gue kabarin kalo gue berangkat.
Anika: Zzzz

Aku menutup chat-ku dengan Anika. Layar depan ponsel kembali menampilkan wajah seseorang yang sengaja kujadikan wallpaper Handphone. Entah mengapa dari wajahnya yang keras, justru membuatku mengaguminya. Tak ada senyum disana, tapi pandangan mata kelamnya yang mengintimidasi itu membuatnya terlihat cool, dewasa dan kuat. He's so fucking handsome...

Ya Tuhaaaan...
Bagaimana mungkin aku mencintai orang hanya dari fotonya? TAPI SERIUS!!
Dia kayak tokoh idola pada novel impian gadis-gadis remaja. Dia kayak gambaran nyata seorang tokoh imajinasi yang selama ini muncul di cerpen bahkan novel yang kubuat!

"Misel, kamu gak kuliah?"
"Aduh ibuuu... aku baru seneng sedikit, langsung ibu aur-aurin!"
"Yee.. ibu kan tanya, cepat mandi sana!"


**********


"Lo lagi kenapa sih?" Anika menyenggol lenganku dengan gemas, sebenarnya aku sedang malas bercerita, tapi tidak enak dengan Anika yang sepertinya ingin tahu, lagipula kami tidak pernah menyembunyikan masalah terhadap lainnya.
"Si bocah tengik itu-"
"Heh! Lo gak boleh gitu.."
"Gue kesel banget sama dia, gak tau tuli atau emang gak bisa mikir, gue udah sering bilang jangan pake sikat gigi gue, tapi dia lakuin lagi hal itu. Panas gak lo?"
"Dia kan masih kecil, Sel.. yaudahlah maklumin aja, kenapa gak lo yang ngalah, misalnya bikin kotak kaca yang lebih tinggi dikamar mandi buat naro barang-barang lo yang gak bisa dicapai tangannya." Aku terdiam mendengarkan saran Anika. Benar juga, kenapa aku tidak mengantisipasinya?
"Kalo orang itu gak mau berubah, ya rubah aja kebiasaan lo, kan itu buat lo juga. Ngapain si tarik urat dan malah benci anak kecil sampe segitunya, buang-buang tenaga!" Anika tersenyum jahil sambil menggelengkan kepalanya.

Aku bingung, kenapa Anika selalu menemukan solusi dengan mudah dan tenang? Bertengkar dengan anak umur enam tahun dan aku sama sekali tidak mau mengalah? Memang terdengar konyol sih.

"Well.. thank you sarannya!" aku mencium pipinya sekilas, sebagai tanda terimakasih. Kami memang sudah biasa melakukan itu sebagai bestfriend. Aku, Anika dan Karra.
"Welcome besties! Btw.. OH MY GODNESS, MISEL! HAHA YA AMPUN!"
"Anika kok lo rese sih!" aku segera merebut ponselku yang barusan dirampasnya. Sial! Dia pasti lihat.
"Ya ampun, lo beneran lagi waras kan demen sama dia? Atau gimana nih? Plis deh Sel, kenapa gak pernah cerita coba."
"Karena gue tau lo iseng dan Karra ember! Udah ah gak usah dibahas!"
"Ini bukan masalah gue iseng atau Karra ember kali, Sel! Tapi lo tau kan siapa yang lo taksir ini. ASTAGA, AG-"
"Ag..Ag..uss.. ya.. Agus.."
"Iya, iya.. si Agus, hehe Agus!"
"Apaan sih kalian, Agus-agusan?"

Aku cepat-cepat memasukkan ponselku ke dalam kantong kecil didalam tas ketika Karra tiba-tiba berada ditengah-tengah kami.

"Agus yang palanya botak? So... ada urusan apa kalian sama dia?"


**************

Namanya Agavhni Al-Masd, seseorang yang saat ini sedang bersekolah di Australia. Tepatnya di University of Sydney dan mengambil jurusan Arsitektur. Kalau benar, mungkin tahun ini ia lulus.
Aku belum pernah bertemu dengannya langsung, tapi aku sudah jatuh cinta padanya. Anika tau soal ini, tapi tidak dengan Karra. Aku belum berani terang-terangan padanya karena Aga itu sahabatnya Leon, pacar Karra dan sialnya hottest guy itu udah punya pacar.

Diam-diam aku berpikir bahwa nasibku sama dengan Anika, menyukai pangeran yang sudah dimiliki putri lain. Unknown bilang, 'He's not your prince charming if he doesn't make sure you know that you're his princess' uh nyebelin. Tapi biar bagaimanapun, cinta kan gak pernah salah, dengan siapapun kita merasakannya. Walaupun yang terjadi padaku cukup aneh, dimana aku belum pernah bertemu orangnya dan mendengar suaranya tapi aku sudah jatuh cinta padanya.

"Minum dulu nih, nulis terus. Tugas tuh kerjain!" Karra menempelkan softdrink kepipiku, Aku langsung menutup laptopku dan meminum softdrink yang dibawakannya tadi. Anika yang duduk di depanku cuma cengengesan. Awas aja kalo dia sampe ember soal Aga.
"Gue lagi ngejar deadline nih, dua bulan lagi!"
"Yaelah masih lama!" Karra menanggapinya biasa. Ergh, dia itu!
"Lo kira gampang nulis 150 halaman novel plus ngedit-nya dalam waktu dua bulan doang? Kalo hasilnya maksain dan gak maksimal gimana? Buat tulisan itu jelek atau bagus, sama-sama capek tau gak?" aku bersandar pada kursi taman dan menaikkan kedua kaki supaya duduk bersila.
"Lo lagi Selfie yang, Nik?" Karra menoleh kearah Anika.
"Ah paling lagi chat sama si pangeran berular besi!" sahutku ngaur. Anika dan Karra menganga, setelah ini pasti mereka kompak menyebutkan kata yang sama.
"Apaan sel?"

Tuh kan barengan..

"Iya.. dia kan ngendarain kereta, bukan ngendarain kuda putih!" diakhir kalimat aku menjulurkan lidah. Keduanya langsung bersandar malas dan menggumam 'Lebay!'
"Sorry ganggu!" tiba-tiba seseorang datang. Matanya langsung beralih ke Karra lalu tangannya menarik Karra untuk bangun.
"Kenapa, Le?"
Ternyata Leon, pacar Karra sejak dua tahun yang lalu. Aku bingung bagaimana bisa mereka pacaran dalam jangka waktu yang cukup lama seperti itu, padahal dengan sikap Karra yang egois dan manja ditambah Leon yang temperamen dan kadang-kadang 'gila' adalah kombinasi yang parah banget. Hebat.

Aku dan Anika masih memperhatikan mereka. Leon terlihat seperti membisikkan sesuatu pada Karra, kemudian ia menunjuk kearah parkiran mobil dimana terdapat seseorang yang sedang berdiri sambil bersandar dipintu Lamborghini milikny.
"Gue kesana sebentar yah, guys!" Karra meminta ijin. Anika mengiyakan sementara aku masih belum lepas dari seseorang yang bersandar dipintu mobil Leon. Astaga!
"Siapa tuh, Nik?" aku menggenggam pergelangan tangan Anika, membuatnya menoleh kearah yang aku tunjuk dengan daguku.
"Waaah keren banget!" Anika ikut takjub setelah melihatnya.
Seorang cowok berkacamata hitam yang sedang bersandar cool dipintu mobil Leon itu memandang kesegala arah dikampus ini - terlihat dari gerakan kepalanya, sedangkan mulutnya seperti sedang mengunyah sesuatu. Ia melipat kedua tangannya di dada. Rambutnya cepak dan dia memakai t-shirt berwarna hitam yang sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sexy, dipadukan dengan levis hitam dan sneakers abu-abu.
Very good looking

Eh...
Kayaknya aku pernah liat!

"Gila si Leon, temennya ganteng-ganteng!" Anika memajukan duduknya seolah tak puas melihat dari jarak jauh seperti itu. Aku mengangguk cepat. Minggu lalu Leon memperkenalkan kami kepada temannya yang berkacamata. Katanya sih calon pengacara. Tubuhnya tinggi dan tegap dan senyumnya kelihatan ramah, tapi anehnya kacamata yang ia malah membuatnya terlihat sexy bukan culun.
"Dia doang yang aur-auran.." aku menanggapi celotehan Anika sambil cengengesan. Memang benar sih, Leon itu sangat berantakan, untuk rambutnya cepak rapih bukan gondrong, kalau tidak dia pasti sudah mirip preman pasar. Walaupun jadi preman paling ganteng, mungkin.
 "Sel..Sel.. kesini tuh, Sel!" tiba-tiba Karra memukul kakiku dengan pukulan bertubi-tubi. Aku langsung menurunkan kakiku dan merapikan rambut. Ya ampun, gaya jalannya aja keren banget. Jadi berasa liat artis Hollywood yang berlenggak di red carpet.
"Anika.. Misel.. ada yang mau gue kenalin nih." Karra sudah berdiri dihadapan kami, dengan dua orang cowok tinggi disampingnya.

Ya Tuhan... DIA!

"Ini, Aga..!" Karra tersenyum kearah kami. "Aga.. ini sahabat-sahabat gue, yang ini Anika, yang ini Misel!" selanjutnya Karra menunjuk masing-masing dari kami. Aku membeku. Ya ampun.... ya ampun.... ya ampun.
Aku memimpikannya tiap malam dan hari ini...? Hari ini aku melihat aslinya. Oh my Godness.
Cowok itu membuka kacamatanya. Aku bisa melihat Anika mengulurkan tangannya sambil tersenyum dan sayangnya dibalas datar olehnya. Wajah cynical-nya itu, tetep aja gak bisa nyembunyiin ketampanan alaminya. Dan matanya.... matanya tajam namun sendu. Ini ciptaan Tuhan terindah yang pernah kulihat.
"Sel...! Sel...!"
"I-iya.." aku tersadar saat Anika menggoyang-goyangkan tanganku. Aku langsung tergagap memandangi mereka semua, terutama Aga. Alisnya bertaut seolah mengatakan 'Kenapa dia?'
"Gue.. gue Misel!" aku sedikit mendongak menatapnya. Dia sangat tinggi, setara dengan Leon. Aku baru sadar saat sedekat ini. Padahal aku termasuk tinggi untuk kalangan cewek di Indonesia, Anika juga. Tinggi kami sekitar 170 cm, sedangkan Karra hanya 165. Dan hottest guy ini? Kutaksir tingginya 180-190 cm, karena aku tinggiku cuma selehernya.
Tak lebih dari sedetik Aga menggenggam tanganku, lalu melepaskannya lagi tanpa kata-kata. Kayaknya aku gak berniat cuci tangan seharian ini.
"Dia baru pulang dari Aussie dan sengaja mampir ke kampus ini buat ketemu temen lama. Iya gak, Ga?" Karra menepuk perutnya dengan akrab. Tiba-tiba aku merasa iri. Sedangkan Aga hanya tersenyum tipis. Aku baru sadar kalau dia belum mengeluarkan suaranya sama sekali, seolah itu sangat berharga.
"Abis ini mau kemana, Ga? Ngumpul aja sama kita-kita.." Karra melirik Leon saat mengatakan itu dan disambut dengan anggukan Leon yang beralih menatap Aga.
Tapi sayang responnya mengecewakan kami. Dia menggeleng,. kemudian melirik arlojinya. "Gue mau bikin kejutan buat Ribi." ujarnya tenang.

Aku melemas mendengar nama itu. Ribi? Itu pacarnya yang dibilang Karra, kan? Ya ampun, aku tidak menyangka Aga yang se-cool ini ternyata sweet banget. Tapi kok aku sakit yah? Aku baru ketemu dia lho barusan. Pangeran dalam mimpiku, orang yang kucintai secara aneh. Terus sekarang?

"Oh.. jadi Ribi gak tau lo pulang?"
Aga mengangkat bahunya. "Tau sih, cuma gak se pagi ini."
"Yaudahlah abis ketemu Ribi, kita ngumpul lagi." Leon berkata disusul dengan anggukan Aga.
"Oke. So, thank you guys!" Aga bersalaman lagi pada kami, termasuk aku. Dan aku tak sempat memberikannya senyuman. "Le, thanks udah jemput. Pinjem mobil yah!" dia menepuk bahu Leon yang dibalas Leon dengan tonjokan di bahunya.
Baru mengenal, melihat dan mendengar suaranya. Dia sudah mematahkan hatiku.

Baru ketemu.....lho!

"Sel? Lo gak papa?" Anika berbisik, aku mendengar, tapi tak merespon. Mataku masih serius memandangi Aga yang semakin lama semakin menjauh. Memang perasaanku tak mendasar apapun, lagipula aku sudah tau kalau dia sudah mempunyai pacar.
Sekarang aku bisa merasakan apa yang dirasakan Anika. Iya... baru segini aja rasanya sangat mencelos hatiku, baru mengenal saja menyakitkan mendengarnya sudah berpacar. Belum mengobrol, belum jalan bareng, belum berteman, tapi sudah sesakit ini.
Apalagi Anika? Yang sudah melakukan semuanya tapi tetap saja pangerannya sudah dimiliki orang lain. Mau sedekat apa tetap saja ada orang lain.

Merelakannya memang hal yang paling tepat, karena sekalipun berjuang pasti kita akan menyakiti orang lain.


Kadang-kadang cinta sangat tidak adil, semakin kita mengorbankannya, semakin kita terluka. Dan ketika kita  memberikan yang terbaik untuk seseorang yang kita cintai, tampaknya itu tidak pernah cukup. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar