Sabtu, 12 Oktober 2013

Something



Saat itu awan kelabu menghiasi latar tempatku terduduk manis bersama Langit. Di bukit ilalang ini aku biasa bertemu dengannya, dan tentu saja pada hari sabtu. Langit bilang, hanya hari itu dia bisa bertemu denganku.

“Langit akan padam… ayo kuantar pulang!” dia berdiri sambil menyodorkan tangannya padaku. Dengan hati-hati aku mengangkat tubuhku yang di bantu olehnya, dia merangkul pinggangku dan membantuku berjalan karena saat itu aku tak membawa tongkat. “Hati-hati..” ujarnya lembut.

Aku tersenyum. Laki-laki yang mengesankan, dia memberikan tangan, lengan dan bahunya untukku menyuarakan keluh kesahku. Telinganya selalu setia mendengarkanku, mulutnya selalu terdengar manis didepanku, matanya selalu teduh menatapku, bahunya dengan senang hati ia berikan untukku bersandar, lengannya selalu memelukku dan tangannya selalu mengusap airmataku.


“Kadang aku merasa… hidupku tergantung padamu, Langit!”

Dia tersenyum. “Aku percaya itu…”

*****

“Sedang apa? Kamu gila.. kemarilah!” cowok berbaju hitam itu mendekat kearahku. Aku menoleh nanar kearahnya.

“Aku sedang mencoba terbang..,” kataku sambil merentangkan tangan di atas tebing terjal. Selangkah saja ceroboh, aku akan lenyap.

“Untuk apa? Kamu bukan burung.. jangan main-main, cepat kemari!” bujuknya panik. Aku tertawa, renyah sekali seperti orang tak berotak. Namun bujukan-bujukannya padaku membuatku melemas.

Dia seperti malaikat yang mempunyai ketajaman berlisan pada orang sehingga begitu saja bisa membuat siapapun terpatri dengan kata-katanya.

“Tolonglah.. aku yakin kamu masih memiliki mimpi indah  malam ini, jangan rapuh dan jangan pernah merasa letih untuk menapaki jalanmu. Lihatlah… ujung senja itu sangat indah walau berlari pun kita takkan pernah sampai disana. Seperti keindahan hidup.. kamu takkan bisa sampai bila mencari keindahan itu, tapi kamu bisa melihat dan merasakannya dan itu nyata!”

Aku terduduk. Airmataku jatuh begitu saja. Entah sadar atau merasakan hal lainnya, tapi dadaku begitu sesak seakan tak ada oksigen yang bisa ku hirup lagi. Aku sesenggukan di tengah tangisku—seperti mencoba mengambil nafas namun tak juga kuhirup oksigen itu.

“Manusia memang mudah terluka, terluka dan putus asa. Percayalah dibalik segala duka masih tersimpan hikmah… waktu takkan kemana-mana, dia akan terus bergulir walau kamu hanya diam di tempat. Tak memiliki siapapun, tapi kamu masih memiliki waktu.” Dia mencengkram bahuku dan menyadarkanku akan satu hal. WAKTULAH TEMANKU.

*****

Langit mendung menggantung di atas kepalaku. Aku mendongak sambil memejamkan mata—merasakan angin sejuk yang menyapu tubuhku.

Hari ini aku berada di bangku taman tempat biasa aku menunggu Langit. Sudah dari sepuluh menit yang lalu aku disini, namun Langit belum juga datang. Aku menatap ke sekelilingku. Sepi. Entah kenapa cuaca di sekitar menjadi semakin mencekam, udara lebih mendingin daripada tadi, sedang awan kelabu berubah menjadi gelap. Aku meringis.

“Langit takkan mendung tanpa sebab, langit takkan bergemuruh tanpa sebab dan langit takkan menangis tanpa sebab… begitu juga kita disini. Biru, kamu punya warna, cerah dan indah. Tak seperti awan di atas sana, yang kelam dan membuat takut. Tertawalah… dengan itu kamu takkan pernah sendirian.”

Tiba-tiba Langit datang lengkap dengan petuahnya. Aku menatapnya tanpa berkedip. Kali ini dia duduk di sampingku sambil tersenyum menatap bibir langit yang menghitam. “Kenapa kamu selalu berkata seperti itu padaku?” tanyaku.

“Karena kamu membutuhkan itu. Biru… jangan pernah putus asa lagi hanya karena kamu tak memiliki siapapun seperti kebanyakan orang. Hidup akan indah pada waktunya. Ingat.. Biru akan selalu menjadi warna Langit. Satu langit cerah yang selalu mewarnai hari-hari indah…”

"Aku mengerti, terimakasih, tapi... aku belum mengerti bagaimana bisa aku mengobrol dengan arwah sepertimu. Langit!"

Saat itu dia tersenyum sambil mengerjapkan matanya. "Everything happens for a reason!"



THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar