Jumat, 03 Januari 2014

Sepotong Impian

Dia bukan pangeranmu jika dia tidak menunjukkan padamu bahwa kamu adalah putri pendampingnya.

**********
 

Hujan diluar sana masih terdengar sama, deras dengan rintik bergerombol yang sangat berisik. Sudah beberapa hari ini aku tidak keluar rumah - hujan menghalanginya. Dulu, aku punya teman yang sangat menyukai hujan. Ketika hujan datang bersamanya hendak menjemputku, ia selalu kuyup dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.



Aku Egla Claryna Putri, umurku jalan delapan belas tahun. Ketika dunia gelap melingkupiku tak banyak yang kulakukan. Terkadang aku hanya duduk dipinggir jendela kamar sambil mendengarkan lagu instrumental.

Ibuku, Hana Farida membuka toko bunga saat kami baru pindah kesini, ke sebuah daerah sejuk ditengah pengapnya kota Jakarta. Ayah tidak ikut bersama kami karena ia masih didalam bui. Ayahku dipenjara dengan tuduhan penggelapan uang perusahaan, saat itu kulihat ibuku sangat tegar. Tadinya kupikir ayah memang bersalah, tapi ibu bilang ayah tidak bersalah. Tapi menangisinya akan sia-sia, karena kita bukan siapa-siapa.

Saat ini toko bunga yang dikelola ibuku lumayan laris, mungkin karena letaknya cukup strategis. Ibu bilang banyak pemuda yang sering mengunjungi toko kami. Beberapa bercerita akan memberikan bunganya pada kekasih dan beberapa lagi akan memberikannya kepada ibunda tercinta. Aku senang ternyata masih
banyak laki-laki yang romantis - yang memperlakukan wanitanya dengan manis.

Sejak pagi tadi aku masih terbaring dikasurku. Sepertinya tubuhku enggan untuk melakukan aktivitas dipagi mendung ini, sedangkan telingaku masih setia mendengarkan lagu instrumental yang dimainkan Yiruma, rasanya membuatku semakin malas bangun dari tempat tidurku.

"Pagi..."
tiba-tiba ada suara seseorang yang terdengar samar ditelingaku. Ia menyapaku dengan lembut sambil membuka satu headset yg terpasang ditelinga kiriku.
"Reyhan?" senyumku mengembang dihadapannya. Walau mataku tak bisa melihat laki-laki itu, tapi aku yakin dia membalas senyumku.
"Hai.."

Mendengar suaranya, berada disampingnya dan dilindungi olehnya adalah salah satu anugrah terbesar yg diberikan Tuhan pada gadis buta sepertiku.

Aku bersyukur, walau aku tidak bisa melihat seperti apa rupanya. Aku yakin ia setampan hatinya yang selalu membuatku nyaman dengan perilakunya yang terus memperlakukanku seperti seorang putri.

Aku ingin bilang bahwa aku mencintainya, tapi aku takut ini terlalu cepat. Biarlah dia dulu yang mengatakannya, walau aku tidak pernah tau kapan waktu itu tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar