Berharap punya tombol Delete dalam hidup biar bisa hapus orang-orang yang gak penting disekeliling gue.
-Elbi
******
"Princess Navi heartbreak.Out of the blue, she meets Prince Elbi (Who-was-stunning-as-always)
And what happens when theirs friendship evolves into something else?"
"Objection! Navi never broken heart!"
"Really?"
Disebuah taman belakang sekolah, tepatnya dibawah pohon yang sangat besar dengan dedaunan kering yang berjatuhan setiap kali terhempas angin kencang, ada dua orang murid yang asik bercanda sambil mengarang cerita versi mereka. Keduanya tampak bahagia seolah tak memiliki masalah dalam hidupnya.
"Kenapa juga dibagian Elbi harus ditambahin Who-was-stunning-as-always." gadis berambut pendek dengan pita pink soft disebelah kiri rambutnya itu cemberut, membuat wajahnya terlihat menggemaskan. Sedangkan cowok disampingnya tersenyum sambil merapatkan jacket yang membalut seragam putihnya. Kelihatannya cuaca mendung tambah mendominasi keadaan sekitar, walau disudut barat masih sangat cerah.
"Indeed the fact..!" cowok itu menaruh kepalanya untuk bersandar pada lengannya yang sedang memeluk lutut. Ia memfokuskan pandangannya pada cewek manis disampingnya yang sedang membolak-balik halaman novel. "Serius banget sih," lanjutnya gemas.
"Kemarin aku mau banget ikut audisi teater..." cewek itu menutup novelnya dan beralih menatap serius cowok disampingnya.
"Terus?"
"Gak ada pasangannya. Minimal berdua." raut wajahnya terlihat sedih, ia menarik nafas sambil menunduk. Rasanya menjadi bagian dari teater musical yang diadakan sekolah untuk pentas diakhir tahun adalah impian para siswa disekolah itu. Termasuk Navi. Tapi identitas buruk disekolah yang membuatnya mendapatkan julukan si pembawa sial seolah menjadi takdir yang menghalanginya bergabung dengan eskul manapun.
Sedangkan cowok disampingnya, Redifta Xelbi yang sering dipanggil Elbi itu menatapnya miris. Ia mengerti tentang kesedihan Navi, sangat mengerti dibanding siapapun. Navi adalah kebalikan dari dirinya yang populer dan disanjung banyak pihak, terkadang ia juga merasa tidak adil dengan dunia yang memperlakukan Navi seperti itu.
Sampai akhirnya ia merasa bahwa dirinya sangat pecundang, tapi memang itu harus dilakukannya, demi Navi juga.
"Andai gue bisa dampingin lo.." Elbi menatapnya dalam. Navi nyaris tak pernah mempermasalahkan sikap Elbi yang menjauhi dirinya dihadapan semua tema-temannya. Seolah ia mengerti apa yang dilakukan Elbi bukan karena Elbi ikut membencinya, melainkan karena Elbi justru ikut melindunginya.
"Gak papa..." hanya itu yang keluar dari mulut Navi. Selanjutnya di menit-menit setelah itu keduanya terdiam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing, juga kelanjutan hubungan mereka.
Elbi galau.
Ia selalu membayangkan senangnya menggandeng navi didepan seluruh teman-teman sekolahnya, bagaimana asiknya makan bareng di kantin dan membaca buku bersebelahan di perpustakaan, ia sangat menginginkan hal itu terjadi.
Tapi seolah itu menyalahkan takdir, Elbi lebih memilih menepis semua bayangan itu. Rahasia terdalamnya kenapa ia tak ingin berdekatan dengan Navi, bukan karena takut image-nya memburuk, melainkan takut ia ikut diremehkan oleh orang lain yang akhirnya berpengaruh pada Navi juga.Selama ini, Elbi yang selalu menghukum oknum-oknum yang tega membully Navi, tanpa mereka sadari Elbi sebenarnya selalu membalas semua yang mereka perbuat atas Navi, walaupun mereka tak pernah tau bahwa seorang Elbi mengenal seorang Navi si pembawa sial .
Karena hal itu Elbi takut berdekatan dengan Navi di depan teman-temannya. Ia takut kebenaran itu malah membuatnya setara dengan Navi yang diremehkan orang dan menjadikannya tidak bisa membalas dan melindungi Navi didepan teman-temannya.
Kalau ia berkuasa dan bisa melindungi Navi dengan caranya sendiri, walau harus merahasiakan kedekatannya dengan Navi, ia rela melakukannya daripada ia dekat dengan Navi tapi dibenci oleh orang lain dan menjadikannya tidak lagi sebagai 'kaum atas' yang berkuasa dan hal itu akan membuatnya tak bisa lagi melindungi Navi.
"Kalo semua orang tau gue deket sama lo, gue takut gue gak bisa ngelindungin lo lagi dari mereka.." kata-kata itu tiba-tiba meluncur dari mulut Elbi, sebelumnya dia tidak pernah mengatakan bahwa semua yang ia lakukan berhubungan dengan Navi, walau Navi tahu Elbi melakukan itu karena dia.
Navi ingat waktu itu dia tak sengaja menabrak sebuah prakarya milik temannya yang membuat prakarya itu hancur lebur. Temannya marah besar dan mengurung dirinya ditoilet.
Elbi yang punya koneksi banyak, cepat mengetahui hal itu, diam-diam Elbi mempunyai pendengaran dan kecepatan mendapatkan informasi dengan tajam dan akurat. Ia langsung menolong Navi. Dan tanpa Navi ketahui Elbi balas mengurung teman sekelas Navi di dalam toilet sampai jam sekolah berakhir.
Elbi selalu melakukan itu, ketahuan atau tidak ketahuan, dia tetap cuek karena tak seorangpun berani membalasnya. Dan juga tak seorang pun tau kalau ia melakukan semua itu untuk Navi, yang mereka tahu Elbi memang biangnya nakal.
Dia memang pecundang, dia sadar itu.
"Walaupun gue gak bisa deketan sama lo di depan mereka. Bisa gak kalo gue minta lo sekali lagi untuk jangan deket-deket sama orang yang gue benci." perkataan yang keluar dari mulut Elbi seperti sebuah permintaan yang sangat berharap Navi bisa mengabulkannya.
Cewek manis itu menatapnya heran. "Siapa?"
"Defo.."
"Dia temen aku.. Defo, Arsy, Jansen dan Arin, cuma mereka yang bersedia ajak aku makan di kantin."
Brengsek.
Perasaan sesak melingkupi perasaan Elbi. Melarang Navi bergaul dengan mereka malah seperti menawarkan Navi untuk bergabung ke dunianya yang sepi lagi. Kali ini Elbi tak cukup tega, tapi perasaannya memang bertolak belakang.
Elbi mengacak-acak rambutnya. "Kenapa sih lo ketemunya sama mereka..." sesalnya. Ia menarik rumput didepannya dan membuangnya dengan kesal.
"Takdir..."
Elbi menarik nafas berat, ia membaringkan tubuhnya direrumputan itu dan memejamkan matanya. "I am fake like an asshole.." lalu mengatai dirinya sendiri. Navi menoleh lalu tersenyum tipis.
"Not, Elbi. You are the best..."
Kata-kata Navi barusan membuat Elbi membuka matanya dan duduk kembali. Mereka bertatapan cukup dalam. Elbi benci harus mengalah dengan Defo, tapi ini menyangkut Navi, mau enggak mau dia harus menyetujuinya. "Gue cuma mau lo tau, Defo adalah satu-satunya orang yang enggak bakal jadi temen gue, mau apapun keadaannya, terdesak sekalipun, gue tetep benci dia. Tetep benci!"
"I know...-"
"Gue takut kalo lo deket sama dia akhirnya malah there something else..!" Elbi memotong perkataan Navi cepat.
"Diantara mereka, aku paling deket sama Arin dan paling jauh sama Defo-"
"Bagus!" lagi-lagi Elbi memotongnya. "Cuma lo, sama si pengkhianat Jansen itu yang tau masalah gue sama Defo. Gue harap lo ngerti dan..." Elbi menggantung kata-katanya, ia merasa tidak tahu diri kalau harus meminta tolong lagi pada Navi.
"Dan maklumin itu?"
Elbi hanya mengangguk acuh menanggapi pertanyaan Navi. Cewek manis itu memang dirasanya paling mengerti Elbi, oleh sebabnya, betapapun populernya Elbi, betapapun banyak yang mendekatinya, sampai saat ini hatinya masih untuk Navi, walau ia sendiri belum pernah menyatakannya langsung pada Navi.
Navi adalah orang pertama yang ia temui dan kenal disekolah ini dan ia tidak akan pernah melupakan bagaimana manisnya sikap Navi saat bertemu dengannya. Jauh sebelum ia mengenal teman-temannya, ia lebih dulu kenal dengan Navi.
"Masuk gih, kayaknya udah bel deh." Elbi bangun dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Navi untuk menariknya bangun.
"Kamu jalan duluan aja, El.."
"Engga usah, lo aja duluan, gue ikutin dibelakang."
Selalu seperti itu kencan diam-diam mereka dilingkungan sekolah. Walau bagaimanapun dan dimanapun Navi berada, seolah Elbi selalu menjadi tamengnya walau tak pernah terlihat oleh mata siapapun.
*****
"Dari istirahat tadi, gue gak ngeliat lo, Nav?" Arin berjalan berdampingan dengan Navi di koridor sekolah. Hari ini mereka bisa pulang bareng karena Arin sedang tidak dijemput oleh ayahnya.
"Biasa, ditaman belakang.." sahutnya cuek. Itu memang bukan tempat persembunyiaannya dengan Elbi, tapi memang hampir tidak ada murid sekolah yang mampir ke taman belakang itu, alasannya karena seram, lagipula disebrang danaunya adalah sebuah tempat pemakaman diatas bukit.
"Sendiri?"
"Em... bisa dibilang begitu!"
Sampai saat ini, Navi memang belum memberitahukan kedekatannya dengan Elbi pada Arin. Sepertinya dia juga tidak mau siapapun tau kalau ia sudah cukup lama dekat dengan Elbi.
"Kenapa gak ajak gue?" Arin kelihatan kecewa, tapi Navi langsung mengusap lengannya sambil cengengesan.
"Lagi pengen sendiri. Oya, gimana hari pertama latihan teater?" Navi mengalihkan pembicaraan dengan cepat. Ngomong-ngomong soal teater, Navi memang cukup iri dengan Arin yang berhasil masuk menjadi anggota teater sekolah karena audisinya kemarin bersama Defo membuat takjub semua orang.
"Belum latihan, Nav.. tadi sih masih absen nama-nama yang lolos sama kasih pengumuman jadwal latihannya. Doain lancar yah.." Arin menggenggam erat lengan Navi yang disambut dengan acungan jempolnya.
"Sukses yah. Terus Defo ikut?"
"Uh, dia mana mau."
"Tapi sebenernya dia lolos juga?"
"Pasti, Nav. Malah yang diharapin cepet-cepet gabung tuh Defo bukan gue. Ya... gitu deh kakak-kakak senior!"
Navi paham dengan semua yang terjadi disini. Arin tak beda jauh darinya yang sering dikucilkan hanya karena identitasnya sebagai anak angkat dari pebisnis terkenal bernama Alfian Harys itu terungkap. Ia diolok-olok oleh warga sekolah dengan julukan barunya si anak angkat. Mungkin ini gak bakal separah itu kalau saja Alfian Harys hanya orang biasa, tapi sayangnya beliau adalah seseorang yang sering sekali muncul di koran dan TV, jadi berita soal Arin sebagai anak angkatnya itu seolah menjadi headline news setiap harinya disekolah.
"Btw.. bunga dari siapa lagi tuh?" Arin menyenggol lengan Navi. Ditangan Navi terdapat sebuah bunga mawar pink yang sedaritadi digenggamnya. Ia tersenyum saat Arin menanyakan soal itu.
"Unknown person.." jawabnya asal. Arin memang beberapa kali memergoki Navi selalu menerima bunga dikolong mejanya, tapi sampai sekarang ia belum tau siapa yang sedang dekat dengan sahabatnya itu.
"Masa sih?"
"Serius..."
"Tuh kan gak mau cerita!"
"Serius kok gue gak tau..." Navi tersenyum palsu. Dia jelas tau siapa yang mengirimkan barang-barang 'manis' seperti bunga, coklat sampai sweater dikolong mejanya.
Pasti kerjaannya Elbi.
******
Mendung.
Navi masih terduduk dibangku depan gerbang sekolahnya. Angkutan yang ia tunggu selalu ramai penumpang, sedangkan Arin sudah sedaritadi pulang. Diam-diam ia menyesal juga telah menolak ajakan Elbi untuk pulang bersama. Tapi Elbinya juga sih yang merepotkan, Navi malah disuruh berjalan dulu ke dekat pom bensin yang jaraknya lumayan jauh dari sekolahnya, ya Navi menolak.
"Nav!"
Tiba-tiba terdengar panggilan dari suara seseorang yang sangat dikenalnya.
"Defo?"
"Belum pulang?" Defo mendorong motor sport hitamnya sampai ke depan gerbang, dimana Navi duduk disana.
"Angkotnya lama.."
"Bareng aja!" ajaknya langsung. Navi kelihatan berpikir sejenak. Tapi kemudian langsung mengangguk mengiyakannya. Ia takut menyesal lagi menolak ajakan pulang seseorang.
"Yakin gak papa?"
Defo mengangguk, sambil memakai jacketnya. "Iya.. sekalian gue mau ketemu nyokap lo."
"Tumben?"
"Yaa.. silaturahmi. Udah lama gak ketemu, kangen!" setelah selesai memakai sweaternya, Defo langsung menyalakan mesin motor dan mempersilahkan Navi untuk duduk dibelakangnya.
"Udah.." kata Navi saat sudah standby dijok motor Defo. Tanpa aba-aba lagi Defo langsung menjalankan motornya meninggalkan sekolah.
Mamah Navi adalah ibu asuhnya yang sering ia panggil dengan sebutan 'Ibu Atha' Defo mengenal ibu Atha sejak ia lahir, wanita itulah yang merawat Defo ketika ia masih bayi. Hanya saja baru-baru ini ia tahu kalau Navi adalah anak dari ibu Atha. Yang tadinya ia sempat benci karena julukan si pembawa sial yang melekat pada diri Navi, belum lagi fakta yang dibeberkan Jansen soal kedekatan Navi dengan Elbi secara diam-diam itu, membuat Defo tambah tak ingin mendekati Navi, walau hanya sebagai teman sapanya pun.
Tapi takdir seolah berkata lain, entah tulus atau karena ada hal lain yang merasa harus diselesaikannya. Defo menjadi lebih ingin dekat dengan Navi, walau setidak mungkin apapun kelihatannya.
"Nav, mau mampir makan dulu gak?"
"Dirumah aja, Def."
"Oh.. oke!"
******
"Lo jerit-jerit Navi pembawa sial pas dikantin kemarin, tapi sekarang malah boncengan sama dia."
Entah sejak kapan Elbi berdiri didepan rumah Navi. Dengan tangan yang terlipat didada dan pandangan angkuhnya ia menghadang Defo.
Defo turun dengan tenang dari motornya setelah Navi turun lebih dulu.
"Jealous?" Defo melepas sarung tangannya dengan tenang tanpa menatap Elbi, sedangkan Navi sudah berdiri disamping Elbi tanpa berkata apapun.
"Lo ngapain kesini?" tanya Elbi tak menghiraukan ledekan Defo sebelumnya.
Dengan fake smile-nya, Defo mendekat. "Emang keliatan salah besar kalo gue ada disini?"
"Jelas!"
"Hah? Jealous?"
"Anjing lo!" Elbi langsung mendorong bahu Defo sampai Defo mundur beberapa langkah. Navi buru-buru menarik lengan Elbi supaya tidak lebih dekat lagi dengan Defo.
"Gue gak cari gara-gara sama lo, babyboy. Sekarang minggir, mending lo pulang!" dengan PD-nya Defo mengusir Elbi, itu malah membuat Elbi tak habis pikir mendapat respon seperti itu. Sialan!
"Eh udah-udah. Kalo mau dua-duanya masuk ke dalem, atau dua-duanya pulang aja!"
"DIA YANG PULANG!" Elbi dan Defo mengatakannya serentak sambil saling tunjuk.
"SHIT!" lagi-lagi berbarengan. Kemudian keduanya memukul bibir masing-masing.
"Yaudah pulang dua-duanya. Btw, Thanks ya Def!" setelah mengatakan terimakasih pada Defo, Navi langsung berjalan masuk kerumahnya.
"Tunggu, Nav!" Elbi dengan sigap meraih tangan Navi. "Tadi pas gue ngajak lo pulang bareng kenapa gak mau? Sekarang malah sama dia."
"Defo numpanginnya lebih masuk akal."
"Hah?"
Navi hanya menggeleng mendapati ketidakpahaman Elbi. Ia menepis genggaman tangan cowok itu dan kembali meneruskan jalannya. "Nav!" tapi Elbi mencekalnya kembali.
"GUE PULANG, NAV!" potong Defo. Navi langsung beralih memandangnya dan melambaikan tangan.
"THANK YOU YA, DEF!" teriaknya dari jauh. Defo memang tak pernah ambil pusing, dan Navi beruntung soal itu.
Sekarang dia kembali menatap Elbi.
"Untung dia sadar diri,"
"Kamu yang terlalu labil..!"
Elbi kebingungan dengan sikap Navi yang malah menyalahkan dirinya. Tapi dia tak perduli, yang terpenting saat ini Defo sudah tidak mengganggunya bersama Navi lagi. "Navi... sebentar!"
Sebelum keduanya masuk, Elbi menarik tangan Navi kembali. Kemudian ia berbalik dan menunjukkan tas ranselnya pada Navi. "Buka deh resletingnya."
"Kenapa?"
"Buka aja.." pinta Elbi yang langsung dipenuh oleh Navi. Setelah membuka resleting tas bagian depannya Elbi, Navi langsung tersenyum mendapati apa yang ada disana, lalu tangan halusnya meraih sesuatu itu dan menutup kembali resletingnya.
"Gue tau kok gue konyol, ajak lo pulang bareng yang mengharuskan lo jalan jauh dulu supaya kita ketemu." katanya setelah berbalik dan berhadapan lagi dengan Navi.
Navi mencium setangkai mawar pink yang diambilnya tadi dari tas Elbi, walau sedikit layu tapi masih terlihat indah. "Gak papa, yang penting kamu sadar kalo itu konyol.."
Lalu Elbi tersenyum setelah mendapat respon baik dari Navi. Ia bersyukur mengenal Navi, seolah gadis itu adalah sebuah danau ditengah padang pasir yang gersang. Menyejukkan. Dan selalu menyentuh hatinya.
"Makasih yah bunganya.." Navi menatap Elbi penuh arti, yang dibalas dengan anggukan penuh arti juga oleh Elbi.
Tapi kalau tombol delete itu ada, hidup gak akan berwarna.
(Maybe) THE END
Story by Atika Handayani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar