#Latepost
Kenangan dan hari ini serupa kertas yang dijatuhkan api. Ia akan habis berganti abu, yang kemudian ditiupkan angin dimusim semi.
Tapi sebuah kisah tetaplah memori yang tak lekang termakan waktu, tak usang terbakar api. Hanya akan tergantikan oleh hari ini.
Aku serupa lembar baru berlatar putih pada buku hidupmu.
Perlahan menorehkan tinta kisah cerita kita.
Tak ada lagi sepi, sendiri, kenangan, ataupun luka.
Sebab sekarangmu adalah tugasku. Sedang sisa kenangan masa lalumu hanya sampah dimataku.
Hanya menunggu gelungan ombak menyeretnya pergi.
Lenyap
Hilang
Sendiri
PS: Untuk seseorang yang selalu mengeluh kepada peluhnya sendiri yang selalu sengaja membangunkan tidur siangnya. dan selanjutnya mengadu pada kekasihnya lewat roomchat : "Sayang... aku kebangun. Ini kenapa gerah begini yah?"
Satu yang ke tiga
Kamu tau? Angka favoritku adalah angka tiga. Dan kamu sudah berhasil mengukirnya ketika yang lain menyerah pada angka tersebut.
Terimakasih untuk tidak pernah berubah sampai bulan ke tiga ini. Terimakasih sudah selalu disampingku sampai bulan ke tiga ini. Dan terimakasih karena sudah bersedia tersiksa oleh ke egoisanku dan sikapku yang tidak pernah mau mengalah.
Terimakasih karena sudah memaklumi semuanya.
Aku sayang kamu. Tidak perduli apapun yang terjadi...
Kamu selalu tertidur di dalam pikiranku. Lelap dalam nyamannya khayalanku tentang kita.
Aku masih tetap berharap kalau tidak akan pernah ada yang mengganggu kita selama aku yang di sampingmu.
Aku berusaha untuk tidak mengungkit lagi soal kebencianku pada sesuatu yang pernah singgah dikehidupanmu yang terdahulu.
Aku mencoba mendiamkan riak-riak berisik yang memenuhi pikiranku soal itu. Tapi kamu tau, aku sulit.
Ketakutanku banyak. Sebanyak sajak-sajak indah yang pernah terlontar dari mulutmu.
Apa kamu mengatakan hal yang sama, dulu? Tentu iya...
Apa kamu memperlakukanku sama seperti dia dulu? Tentu iya... mungkin.
Apa bersarnya kasih sayang dan cinta yang kau berikan sama ? Untuk yang ini aku malas menjawabnya.
Aku sudah menulis ribuan kata-kata tentang 'Apa salahnya masa lalu?' di dalam pikiranku. Tapi mungkin aku terlalu bodoh untuk tidak juga bisa mengerti. Entah apa memang cinta seperti itu. Selalu menjadi bodoh walau ia paham apa yang dilakukannya.
Aku terusik bukan karena tidak percaya padamu. Melainkan pada ketakutanku sendiri.
Hari ini kita baru tiga bulan. Semoga waktunya masih panjang untuk aku dan kamu. Aku seharusnya paham seperti orang-orang yang diam ketika melihat hujan turun. Mereka tidak bertanya bagaimana hujan turun, bagaimana ceritanya hingga ia bisa menetes ke bumi. Tidak ada yang repot bertanya bagaimana awan punya kisah bersamanya. Sampai ia pergi dan jatuh ke tanah.
Seharusnya aku meniru perumpamaan tersebut. Aku tidak perlu repot memikirkan apa yang pernah terjadi pada lalumu, selama apapun, sejauh apapun mimpimu bersamanya dulu.
Semua orang, pun kamu. Selalu sibuk bertanya balik, kenapa aku masih memikirkan hal itu? Tidak perlu dan sama sekali tidak ada gunanya.
Pikiran dan rasaku hanya aku yang merasakan. Sedalam apapun, seredup apapun aku ketika mengingat hal itu, hanya aku yang merasakan. Kalian tidak akan pernah tau bagaimana cahaya yang timbul dari dalam diriku, diredupkan oleh lalumu yang masih membawa kisah kalian sampai sekarang.
Aku jadi selalu berpikir, bagaimana jika dia lebih baik sepuluh ribu persen dimata teman, keluarga, bahkan kamu sendiri, daripada aku?
Sekali lagi, kita baru tiga bulan. Dan ketakukanku sebesar ini.
Kamu pernah bertanya apa aku menyerah? aku jawab tidak. Jelas tidak, untuk apa aku menyerah dengan kesalahan yang bukan kita pelakunya, melainkan orang lainlah yang membuatnya.
Kita baru tiga bulan dan kita sedang berjalan melewatinya. Akankah sampai tiga tahun, tiga puluh tahun atau bahkan tiga ratus tahun waktu kita?
Yang ini aku tidak bisa menjawabnya sendiri. Aku butuh kita untuk menjawabnya bukan aku atau kamu.
Yang jelas.. kita yang baru tiga bulan ini, semoga selalu diberi keberkahan untuk menjalani hubungan kita.
Aku sayang kamu.
Your Love.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar