Laki-laki itu berdiri di depan pagar berwarna hitam legam dengan ukiran berwarna emas di tengahnya. Ia memakai kemeja abu-abu, celana levis dan sepatu boots Dr. Martens berwarna coklat. Tas hitam melingkari tubuhnya, lalu dilepaskan ketika aku muncul didepan pintu rumah.
Aku tersenyum
Ia tersenyum.
Namun bukan senyum seperti biasanya. Wajahnya terlihat tidak segar, bawah matanya menghitam dan sangat terlihat sekali kalau ia kelelahan. Ku persilahkan ia duduk dikursi teras. Tempat dimana biasanya kami bercanda dan berbagi cerita.
“Eh pakai kemeja…” aku mencoba bersikap seperti biasa. Ia tersenyum. Sedari dulu aku sangat ingin melihatnya memakai kemeja. Tapi ia bilang gak PD kalau cuma berkencan harus memakai kemeja. Ia terbiasa memakai polo shirt atau T-shirt
“Iya, kan kamu mau liat aku pakai kemeja” ucapnya sambil tersenyum. Dan senyumnya berbeda dari biasanya, ada beban di sana. Kami berdua, hari ini tersenyum memang tidak seperti biasanya. “Jangan nangis..” lanjutnya sambil mengusap pipiku. Aku tersenyum dan menggeleng.
“Belum sarapan yah? Sarapan dulu yah, aku suapin.” Aku membuka bungkus nasi uduk yang barusan kubeli sebelum ia sampai dirumahku. Aku memang berjanji akan menyuapinya ketika dia kerumahku nanti. Karena sehabis ini dia akan berangkat ke Bogor, kerumah orangtuanya.
Sebelumnya dichat kami pagi-pagi sekali. Ia bilang sangat ingin menemuiku dan meminta doa langsung dariku supaya dilancarkan. Dan ternyata chat kami terkirim berbarengan di mana ia ingin menemuiku dan chatku pun bilang ingin menemuinya.
Ia meneguk airnya sampai habis dan meminta diambilkan lagi. Aku ke dalam hendak mengambilkan satu gelas air putih, lalu kembali dan mulai menyuapinya lagi.
Tak ada banyak kata-kata yang keluar dari mulut kami, tidak seperti biasanya. Dalam setiap hembusan nafasku pun aku menahan tangis supaya tidak pecah di depannya. Aku mencoba untuk selalu tersenyum walau ia mungkin sangat tau itu bukan senyumku yang sebenarnya.
“Kamu bener-bener jadi ke Bogor?” tanyaku. Saat itu tangan kami saling menggenggam untuk beberapa menit lamanya, tapi tak juga saling bicara.
“Iya.. doain yah. Aku mungkin bakal ditendang, dipukul atau diusir nanti. Tapi aku udah gak perduli sama resikonya, aku mau buktiin ke kamu kalo yang aku lakuin hari ini buat kamu. Demi balikin kepercayaan kamu.” Jelasnya.
“Iya.. bismillah..” hanya itu balasku. Aku memainkan jari telunjuknya yang ada dibawah telapak tanganku. Mataku membengkak sejak tadi malam dan pagi ini aku belum mandi. Ia mengusap pipi dan wajahku berkali-kali. Kemudian mengeluarkan uang seratus ribuan.
“Nih.. seperti biasa”
Aku mengambilnya. Entah apa dipikirannya setelah semua kejadian paling memilukan dalam kisah cintaku ini, ia masih rutin menitipkan uangnya setiap bulan padaku. Tetap menabung.
Jujur dua hari lalu disaat kejadian itu terkuak, aku sudah ikhlas. aku sudah tidak memikirkan soal mimpi kita lagi.
Lalu aku ke dalam hendak menaruh uangnya dikotak yang biasa kugunakan untuk menyimpan uangnya, letaknya tepat disamping frame fotoku bersama dia.
Saat aku keluar dari kamarku, ia berdiri di depan pintu sambil membawa gelasnya. Aku tersenyum sambil menghampirinya. “Eh abis, mau nambah lagi yah?” ia menggangguk, tetapi ketika aku sudah tepat di depannya dan mengambil gelasnya. Ia langsung meraih pinggangku dan memelukku.
Sangat erat.
Aku balas memeluknya. Dulu ini adalah bahu paling nyaman tempatku bersandar, bahu dan lengan besar ini yang selalu melindungiku. Aku tidak bisa menahan tangis lagi, aku meneteskan begitu banyak airmata dipundaknya, bajunya basah karena itu.
“Maafin aku. Sumpah aku sama sekali gak berniat bohongin kamu dan aku juga gak bakal bisa lepas dari masa lalu itu. Cuma seperti yang aku bilang berkali-kali, kalo aku jujur dipertemuan awal kita apa kamu mau terima aku? Aku janji bakal perbaikin semuanya buat kamu. Aku sayang sama kamu, sangat sayang. Aku bakal nurutin apa mau kamu. Aku pergi kerumah orangtua aku sekarang. Aku bakal bilang ke mereka yang sejujurnya. Aku gak perduli sama resikonya, bener-bener gak perduli. Aku cuma mau kepercayaan kamu kembali ke aku. Aku gak pernah sayang lagi sama dia sejak lama, aku ngelakuin semuanya terpaksa supaya dia tutup mulut. Itu sebabnya aku bohongin kamu dan orangtua aku.”
Aku tidak menjawabnya. Aku masih menangis dibahunya. Aku tidak bisa mengeluarkan satu kata pun saat itu. Begitu banyak luka yang ia torehkan padaku, begitu banyak kebohongan yang selama ini ia sembunyikan dariku.
Dia mengendorkan pelukannya. Lalu mencium keningku berkali-kali. Ia juga mengusap pipi dan airmataku. “Liat aku..” ujarnya. Aku memejamkan mataku, aku tidak tahu sudah sebengkak apa mataku sampai terasa perih rasanya untuk membukanya.
Tapi kemudian aku mendongak melihatnya. Ketika itu ia menatapku sangat teduh, aku melihat ada banyak luka dimatanya, ada segala macam rasa yang ia tanggung sebagai bebannya. Semestinya laki-lakiku bukan seperti ini. Seminggu yang lalu ia masih laki-lakiku yang ceria, penuh canda dan senyuman lepas. Bukan semenderita ini yang kulihat sekarang. “Maafin aku…” ucapnya lirih.
“Sumpah aku ikhlas. aku ikhlas kalo nanti keputusan orangtua kamu mau kamu nikahin dia.. aku ikhlas”
Dia menunduk, menempelkan keningnya pada keningku. “Aku gak sayang sama dia. Demi Allah aku gak sayang..” lirihnya.
Aku terkulai, tubuhku seperti tidak memiliki tulang. Kedua tangannya masih erat melingkar dipinggangku. Sedangkan kedua tanganku terkulai ke samping tangannya dengan kepala yang masih bersandar pasrah didadanya. Aku masih menangis tanpa suara. Airmataku terus mengalir deras.
Dia kembali mengendorkan pelukannya sambil meraih kedua pundakku supaya aku bisa berdiri tegak. Lalu ia memberikan jam tangan Alexander Christie-nya padaku. “Ini kamu simpen..”
“Nanti kamu pakai apa?”
“Aku gak pakai…”
“Terus gimana?”
“Ya gak gimana-gimana. Kamu simpen yah. Suatu saat aku bakal balik lagi buat ambil. Kamu mau pakai setiap hari juga gak papa.”
Dia tersenyum, meraih ke dua pipiku dan mencium keningku. Dan kami berpelukan sekali lagi.
Ya Tuhan…. Kembalikan dia…. Kembalikan dia yang dulu pada hamba….
Tangisku pecah kembali.
“Udah hey, sayang… udah jangan nangis lagi. Pusing ya kamu? Duduk lagi yuk.” Ia membawaku ke kursi teras kembali. Dan ia meminta aku
mengambilkannya minum lagi.
Aku langsung bergegas ke dapur dan kembali lagi setelah dia sudah rapi dengan jacket dan tas ranselnya.
“Oh iya, ini jersey aku sama masker. Kamu pakai masker ini yah kalo naik motor..” dia mendekat, mencium keningku sekali lagi. “Pokoknya kamu jangan sampe sakit, jangan sampe gak makan, aku tetep jagain kamu apapun keputusannya nanti. Janji yah, jangan pernah kenapa-napa. Aku bakal pantau kamu terus.”
Aku hanya mengangguk pelan. Sedari tadi airmataku tak kunjung reda.
Ia mengambil segelas air dari tanganku dan meminumnya sedikit. “Aku pulang yah.. I love you” ia berjalan menjauh dan menutup pagar rumahku. Terakhir kalinya, dari jauh ia tersenyum. Kemudian melaju bersama motornya.
Aku terkulai dikursi teras. Minumnya bahkan belum dihabiskan, sarapannya juga, harumnya masih tersisa.
Ya Tuhan…. Bisakah engkau kembalikan ia yang dulu padaku?
Bisakah Engkau….
Ya Allah...
Dia Hakimku, Matahariku
Jiwaku melayang bagai serpihan kertas ditiupkan angin.
Hidupku tatkala mendung mengusir terang.
Matahariku, pemberi cahaya terang di hatiku..
Perlahan kau akan pergi.
Kau mengambilnya untuk berada di sisi lain.
Bisakah Engkau menggantinya?
Kumohon, kembalikan dia padaku,
Dia yang dulu..
Dia yang bersih..
Dia yang bersamaku..
Bisakah Engkau?
Pada chat terakhirku, aku bilang:
Bisa kamu kerumah sebelum ke Bogor, aku mau meluk kamu buat yang terakhir kalinya.
**************
Anak kecil itu benar, kekuatan yang paling besar di dunia ini adalah... cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar