Minggu, 14 Agustus 2016

Langit yang Gerimis

This is just a quick outline of what the story will be a like **********
Sora told, when I was born I smiled a lot. But my mother cry. I never know who is my father and where. And now, I never know where is my mother too.
“Kelas hari ini selesai. Pesan saya, kalian harus terus hati-hati di mana pun kalian berada. Dan saya harap kalian tidak perlu khawatir lagi tentang masalah yang menimpa teman sekelas kalian karena pihak sekolah sudah menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib. ”
Bel pulang berbunyi bertepatan dengan berakhirnya jabaran nasehat dari pak Bambang, guru bahasa Indonesia. Semua murid bergegas pulang, seperti tidak ingin berlama-lama di kelas yang mendadak dipenuhi oleh energi negatif. Sedangkan di luar masih gerimis.
Sudah tiga hari berturut-turut matahari enggan menyapa, suasana seperti dirundung duka. Mendung dan gerimis seolah-olah menambah ke suraman suasana sekolah.

Dingin.
Suara hujan masih berisik di luar sana. Namun samar-samar terdengar rintih ketakutan dan kesakitan disekeliling kelas XI IPS 2. Masih ada satu murid yang tinggal. Seolah enggan menyapa gerimis yang riak di luar sana, walau hanya sekedar sapaan, tidak genggaman tangan.
“Kenapa gue nerd banget dimata kalian? Apa yang bikin kalian gak demen sama gue? Apa yg bikin kalian sakit mata pas liat gue? Kelebihan gue apa sampe bikin kalian ngelecehin gue? Ngebenci gue? Apa?”
“Drama banget lo?! Lebay. Lo mau tau apa kelebihan lo? Karena lo enak buat di tendang-tendang. Tuh... hahaha”
Ia memejamkan matanya saat mengingat kembali kejadian itu. Kemudian dipandangnya jendela yang berembun. Itulah kenapa dia benci hujan. Hujan menelan teriakan orang kesakitan, seolah-olah dibiarkan menderita sedemikian rupa. Hujan menelan semuanya, hujan menulikan orang-orang.
“Kamu bisa jujur sama saya?”
“Bapak pikir saya ngebunuh orang?”
“Saya tidak bilang kamu yang bunuh, saya cuma ingin kamu mengatakan sesuatu. Daritadi kamu hanya diam.”
“Tapi saya gak pernah matiin orang.”
“Saya gak bilang kamu yang matiin dia... saya cuma tanya. Karena menurut siswa-siswi di sini. Sebelum dia tewas, yang terakhir kali ditemuinya adalah kamu.”
“Kok saya? Orang dia aja matinya dirumah..”
“Tapi darahnya ada di sekolah...”
Dia mengambil nafas berat. ditidurkannya kepalanya di meja. Matanya masih memandang jendela. Entah sampai kapan mendung berganti mentari. Ada banyak kebohongan di dunianya dan dia terbiasa mengunci rapat segala apa yang ia lihat. Ia pikir, tidak ada urusannya mengurusi orang lain.
“Mereka bilang keluarga saya baik-baik aja.. tapi kenapa saya engga bisa tidur setiap malam?”
“Apa yang kamu rasa?”
“Kenapa di dunia ini yang baik cuma kamu?”
“Semua orang baik, tergantung bagaimana kamu melihatnya..”
“Mereka semua gak ngerti saya, Sora, mereka bilang saya berhalusinasi. Padahal saya hidup 17 tahun di sini. Apa yang mereka sebut halusinasi? Maksud mereka saya gak pernah hidup?”
Batinnya berperang. Hujan mengembalikan semua ingatannya tentang keburukan. Keburukan yang membuatnya hidup dengan ketakutan atas apa yang ia lihat.
“Tolongin gue please...”
Pandangan mata itu jelas tergambar di langit ke abuan. Lalu menghilang. Ia mengangkat kepalanya kembali dan menatap papan tulis putih yang berada di satu jalur lurus dengan matanya.
Sora, saya ini siapa sih? Ibu saya mana? Ayah saya mana?”
Ia memejamkan matanya.
“Dan tadi lo bikin gue bener-bener kesel.. lo ngejebak gue? Lo bangga gitu bisa ngajak ngobrol dia dan bawa-bawa nama gue. Lo hina-hina gue—“
“Engga—“
“ –DIEM!”
“Hey.. sudah mau petang. Kamu gak pulang?” seorang satpam yang sedang berkeliling sambil membawa senter, menyapanya di kelas. Ia melirik arlojinya.
Hanya dengan membayangkan ini-itu saja sampai lama begini, sampai tidak terasa kelas sudah hampir gelap.
“Saya pikir kamu hantu..Ayo pulang..”
“Gue gak kenal siapa mereka dan gue gak punya urusan sama mereka. Sekali lagi lo nyoba sok akrab sama gue. Lo yang gue matiin!”
Rashi bangun dari duduknya, kalimat terakhir yang terngiang ditelinganya adalah omongannya sendiri pada awan, sebelum murid itu tewas.
*******************
Sora told, when I was born I smiled a lot......
The baby’s cry, not smile.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar